Pihak Kaluarga Ragukan Hasil Autopsi Nenek Asi Lesy

MALUTTIMES – Keluarga korban ragu dengan hasil autopsi jasad nenek Asi Lesy (80) yang dilakukan oleh tim forensik Mabes Polri. Dinilai tidak sesuai dengan kondisi jenazah saat ditemukan di lokasi kejadian, hutan Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Mororai, Maluku Utara pada, Jumat (17/2/2023) lalu.

Sebelumnya, pihak kepolisian menyampaikan kalau dilakukan autopsi akan mengungkap fakta sebenarnya. Atas dasar itu pihak keluarga mengizikan dilakukan otopsi. Tapi ternyata fakta baru tersebut tidak sesuai yang diharapkan.

Bahkan, pernyataan Kapolres Pulau Morotai, AKBP. Agung Reza Pratidina yang menyebut penyebab kematian korban adalah sesak nafas karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan, itu dianggap tidak sesuai.

Baca Juga:  Waterfront City Zona lll Morotai Segera Dibangun, PUPR: Tidak Menggangu Kawasan Mangrove

“Kami tidak puas dengan hasil ini, karena kami berharap hasil autopsi berbeda dengan hasil visum tapi ternyata sama saja. Hasil ini bagi kami beda jauh dengan kondisi jenazah saat ditemukan,” ucap salah satu keluarga korban, Abdul Halil, Minggu (26/2/2023) malam.

“Kami anggap Kapolres coba tutupi hal ini untuk meredam isu-isu yang beredar di luar sana,” sambung Abdul.

Baca Juga:  Sejumlah Fasilitas Wisata Pulau Dodola Rusak, Perlu Dibenahi

Menurut dia, jika korban meninggal karena sesak nafas berarti akan ditemukan di atas rumput. Tetapi saat korban ditemukan meninggal dalam keadaan tertutup rumput dan daun kelapa serta dalam kondisi terbungkus.

Kendati tidak menerima hasil outopsi, tapi pihaknya masih berharap agar pihak Polres bisa mengungkap kasus ini hingga tuntas.

Selain itu, pihak keluarga berharap Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dapat membantu untuk mencari bukti-bukti untuk mengungkap kasus ini.

Baca Juga:  Dermaga Speedboat Pulau Dodola Rusak dan Tak Berfungsi

“Kami juga sudah serahkan beberapa bukti, mulai dari jerigen yang ditemukan di lokasi, kemudian ada beberapa nama juga sudah diserahkan. Termasuk masyarakat yang sempat berkomunikasi dengan korban sebelum meninggal,” tandasnya.(iki/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.