Karena itu, Pemkot Ternate menilai perlu dibangun jalur pasokan yang lebih kuat dan langsung dengan daerah-daerah sentra produksi pangan.
Kerja sama dengan Pemkot Probolinggo diharapkan membuka akses pasokan pangan secara lebih langsung dari daerah produsen menuju Ternate.
Usai penandatanganan KAD, rombongan Pemkot Ternate bersama para pelaku usaha langsung melakukan kunjungan lapangan dan sharing session bersama Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kota Probolinggo.
Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena kerap mengalami keterbatasan pasokan dan turut memberikan tekanan terhadap harga pangan di Ternate.
Untuk mendorong kerja sama yang lebih konkret, Pemkot Ternate turut membawa lima pengusaha atau pedagang besar komoditas Barito—bawang, rica atau cabai, dan tomat—yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Pemasok Pangan Kota Ternate.
Rizal berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada kerja sama antarpemerintah, tetapi berlanjut menjadi transaksi bisnis antara pelaku usaha kedua daerah.
“Kami mengajak langsung para pelaku usaha pedagang dari Ternate agar usai kunjungan ini terjadi kesepakatan Business-to-Business secara komersial dengan Asosiasi Bawang Merah di Kota Probolinggo,” tegasnya.
Pemkot Ternate melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan berkomitmen mengawal sekaligus memfasilitasi proses kerja sama bisnis tersebut.
Pemerintah daerah memastikan kerja sama dilakukan secara transparan dan akuntabel, dengan tujuan menjaga kelancaran rantai pasok serta menciptakan manfaat yang berimbang bagi petani di daerah produsen, pelaku usaha, maupun masyarakat sebagai konsumen di Ternate.
Rizal juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Probolinggo beserta jajaran serta Bank Indonesia, khususnya Bank Indonesia Maluku Utara, atas fasilitasi dan dukungan dalam memperkuat kerja sama antardaerah.
“Kerja sama ini diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di daerah,” pungkasnya.(tim/red)
















