Di Bibir Pasifik Morotai, Seorang Guru Matematika Memendam Mimpi Kuliah di ITB: “Saya tidak Ingin Meninggalkan Siswa”

MALUTTIMES – Di balik senyum dan semangatnya mengajar matematika di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Irawati Karim, S.Pd, menyimpan sebuah impian yang belum sempat ia wujudkan. Guru yang mengabdi di wilayah yang dikenal sebagai bibir Pasifik Indonesia itu bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB), namun ia tak ingin impian tersebut membuatnya harus meninggalkan para siswanya.

Keinginan itu menguat setelah Irawati mengikuti kegiatan “Pengabdian Masyarakat ITB untuk Peningkatan Kompetensi Guru Matematika” yang digelar di Aula Kantor Bupati Pulau Morotai, Kamis (2/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan tim dari ITB, yakni Prof. Dr. M Salman A N, Dr. Elvira Kusniyanti, dan Dr. Oki Neswan, Ph.D., untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para guru matematika di Pulau Morotai.

Di sela kegiatan, Irawati mengaku pertemuannya dengan para akademisi ITB semakin menguatkan tekadnya untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi sebagai pendidik.

“Sejujurnya saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan ITB. Saya ingin sekali bisa melanjutkan pendidikan di sana agar kemampuan saya sebagai guru terus berkembang,” ujarnya, Jumat (03/07/2026).

Namun, mimpi itu belum mudah diwujudkan. Selain harus memikirkan biaya pendidikan, Irawati juga dihadapkan pada tanggung jawabnya sebagai guru yang setiap hari mendampingi para siswa di ruang kelas.

“Saya masih berpikir soal biaya. Mudah-mudahan ke depan ada kemudahan atau program yang bisa membantu guru-guru di daerah seperti kami,” katanya.

Bagi Irawati, menjadi mahasiswa bukan alasan untuk meninggalkan tugas sebagai pendidik. Ia berharap ada skema pendidikan yang memungkinkan guru di daerah tetap dapat melanjutkan studi tanpa harus meninggalkan sekolah dan para siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

“Saya tak ingin meninggalkan siswa. Harapan saya, ada sistem perkuliahan yang membuat kami tetap bisa mengajar sambil melanjutkan pendidikan. Dengan begitu, kami bisa terus mengabdi tanpa harus memilih antara belajar atau meninggalkan sekolah,” tuturnya.

Menurutnya, peningkatan kualitas guru akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan di daerah. Ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi nantinya akan kembali kepada siswa melalui proses pembelajaran yang lebih baik.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan ITB itu pun disambut antusias oleh para guru matematika di Pulau Morotai. Selain membahas penguatan kompetensi dan inovasi pembelajaran, forum tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai peluang peningkatan kapasitas guru di wilayah terluar Indonesia.

Kehadiran tim ITB membawa harapan baru bagi para pendidik di Morotai. Mereka berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah terus diperkuat sehingga guru-guru di daerah kepulauan memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan tempat pengabdian.

Bagi Irawati, mimpi itu mungkin masih menunggu waktu. Namun, semangatnya untuk terus belajar tak pernah surut. Dari sebuah ruang kelas di ujung utara Indonesia, ia percaya bahwa setiap guru di daerah memiliki hak yang sama untuk berkembang, selama kesempatan itu benar-benar dibuka.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *