Akademisi Universitas Khairun sekaligus peneliti The Tebings, Supyan, M.Si., menjelaskan bahwa pemetaan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurut dia, pendekatan partisipatif penting untuk memastikan kawasan yang diidentifikasi sebagai wilayah prioritas konservasi sesuai dengan kondisi serta pengetahuan masyarakat setempat.
Dalam proses tersebut, masyarakat bersama tim mengidentifikasi sejumlah wilayah yang dinilai rawan terhadap keberadaan spesies endemik dan perlu mendapat perhatian dalam upaya perlindungan.
Sementara itu, Lurah Tomajiko, Musa Ibrahim, S.IP., mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap upaya konservasi dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan diseminasi.
Ia berharap program tersebut dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya sehingga keberadaan spesies endemik di wilayah Tomajiko tetap terjaga.
Harapan serupa disampaikan perwakilan BKSDA, drh. Hasrian. Ia menyebut konservasi kepiting kelapa dapat dikembangkan melalui skema penangkaran.
Menurutnya, penangkaran tidak hanya dapat membantu menjaga keberadaan populasi kepiting kelapa, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola sesuai ketentuan.
Hasrian juga mengingatkan bahwa pemanfaatan kepiting kelapa dari alam memiliki ketentuan perlindungan yang harus diperhatikan. Karena itu, pengembangan penangkaran harus disertai proses perizinan serta peninjauan kelayakan lokasi oleh pihak terkait.
Melalui kegiatan tersebut, The Tebings dan Burung Indonesia berharap pemetaan yang dilakukan dapat menjadi pondasi awal untuk membangun kesepakatan lokal mengenai wilayah-wilayah yang perlu mendapat perlindungan.
Pelibatan masyarakat secara aktif dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi serta memperkuat perlindungan spesies endemik dan prioritas di Pulau Hiri.(all/red)













