“Untuk sampah plastik yang juga menjadi keresahan, sementara ini kami sedang mencari solusinya. Tetapi untuk sampah organik, kami manfaatkan sebagai pupuk kompos,” tuturnya.
Hasil produksi kompos tersebut untuk sementara dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik DLH Morotai.
“Kami di DLH juga memiliki ruang terbuka hijau. Jadi, kami sudah tidak lagi membeli bibit bunga dan pohon, tetapi mencoba membuat sendiri. Pupuk kompos yang kami produksi juga dimanfaatkan untuk RTH,” ujarnya.
Menurut Nurhayati, keberadaan pupuk kompos juga menyediakan media tanam yang dapat mendukung pengembangan RTH. Jika produksi terus meningkat, DLH akan mempertimbangkan pengembangan pemanfaatan hingga pemasaran agar produk tersebut dapat digunakan masyarakat secara lebih luas.
Program pengomposan ini juga mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Sekitar dua pekan sebelumnya, DLH menerima kunjungan investor yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.
Selain itu, mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Pasifik (Unipas) Morotai turut berkomunikasi dengan DLH terkait pengolahan sampah.
Nurhayati mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi aparatur di lingkungan DLH, termasuk pegawai PPPK dan staf.
“Kami mulai dengan mengedukasi anak-anak di DLH, baik PPPK maupun staf yang memiliki waktu untuk kegiatan ini. Ke depan, ketika mereka sudah lebih memahami prosesnya, kami akan melakukan pendampingan ke desa-desa,” katanya.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong pemerintah desa dan masyarakat mulai mengelola sampah yang dihasilkan di wilayah masing-masing, sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.
Ia menjelaskan, bahan baku pupuk kompos yang digunakan saat ini berasal dari sampah pasar, terutama sisa sayuran dan buah-buahan yang sudah tidak layak konsumsi.
Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di Morotai, terutama dalam mendukung sektor pertanian dan hortikultura.
“Morotai merupakan daerah kepulauan dengan kondisi tekstur tanah yang kurang subur di sejumlah wilayah. Karena itu, pupuk kompos ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para petani, khususnya petani hortikultura,” pungkasnya.(iki/red)











