MALUTTIMES – Menteri Agama (Menag) RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., membuka Festival Gerakan Literasi Madrasah (Galatama) II Provinsi Maluku Utara di Lapangan Ngara Lamo, Ternate, Senin (6/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menag menyatakan gerakan literasi yang lahir dari Maluku Utara memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi program berskala nasional.
Festival yang berlangsung pada 6–8 Juli 2026 itu dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para rektor, kepala daerah, tokoh agama, tokoh adat, serta ribuan guru dan siswa madrasah dari sembilan kabupaten/kota di Maluku Utara.

Selain pembukaan Galatama II, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Provinsi Maluku Utara, Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Maluku Utara, serta penyerahan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas capaian literasi berbasis ekoteologi.
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar mengapresiasi inovasi yang lahir dari Maluku Utara. Menurutnya, daerah mampu melahirkan gagasan besar yang layak menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
“Kami merencanakan gagasan yang lahir di Maluku Utara ini menjadi sebuah gerakan nasional. Terima kasih kepada masyarakat Maluku Utara yang selalu berani berpikir berbeda dan menghadirkan hal-hal istimewa bagi daerahnya,” kata Nasaruddin.
Usai membuka festival, Menag menjelaskan peluang menjadikan Galatama sebagai gerakan nasional masih akan dikaji lebih lanjut. Menurutnya, berbagai inovasi daerah yang memberikan dampak positif layak dikembangkan secara lebih luas.
Ia mencontohkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang pada awalnya merupakan tradisi di daerah sebelum berkembang menjadi agenda nasional.
“Segala sesuatu yang positif di daerah bisa diangkat menjadi tradisi nasional. Dulu MTQ juga berawal dari daerah, kemudian berkembang menjadi kegiatan nasional. Mudah-mudahan Galatama juga memiliki peluang seperti itu,” ujarnya.
Menag juga menilai madrasah mengalami perkembangan yang signifikan dalam dua dekade terakhir, baik di tingkat nasional maupun internasional. Keunggulan madrasah, kata dia, terletak pada kemampuannya memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter serta nilai-nilai spiritual.
Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin turut memuji kondisi kerukunan umat beragama di Maluku Utara. Ia menyebut provinsi tersebut sebagai salah satu contoh daerah yang berhasil menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.
Menurutnya, stabilitas dan toleransi merupakan modal penting dalam pembangunan daerah.
“Tidak ada artinya kekayaan alam apabila masyarakatnya tidak hidup rukun dan aman. Maluku Utara dapat menjadi contoh bagaimana toleransi dan kerukunan terus dijaga,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, berharap perhatian Kementerian Agama terhadap pembangunan pendidikan Islam di daerah terus ditingkatkan, termasuk melalui percepatan perubahan status IAIN Ternate menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
“Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Maluku Utara, kami berharap IAIN Ternate dapat berkembang menjadi UIN sehingga semakin memperkuat kualitas pendidikan tinggi keagamaan di wilayah timur Indonesia,” ujar Sarbin.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara, Amar Manaf, menjelaskan Galatama merupakan inovasi literasi yang mulai dikembangkan sejak 2025 untuk menjawab tantangan geografis Maluku Utara sebagai daerah kepulauan.
Pada pelaksanaan tahun kedua, program tersebut berhasil melibatkan guru dan siswa madrasah menghasilkan sebanyak 3.519 puisi anafora bertema ekoteologi yang telah dibukukan dan menjadi koleksi Perpustakaan Nasional. Capaian tersebut kemudian mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Selain Festival Galatama II, Kanwil Kementerian Agama Maluku Utara juga menggelar Festival Muharram dalam rangka menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah dengan menyalurkan 1.000 paket santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas.
Melalui capaian tersebut, Galatama tidak hanya menjadi ruang penguatan budaya literasi di lingkungan madrasah, tetapi juga mempertegas peran pendidikan Islam dalam membangun karakter generasi muda, memperkuat nilai-nilai toleransi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.(tim/red)












