Menurut dia, kelangkaan BBM jenis minyak tanah ini juga terjadi di Desa Titigogoli, selama setahun masyarakat tidak menerima minyak tanah. Penyebabnya karena faktor akses.
“Mereka (sub agen) punya mobilisasi juga terkendala karena yang tadi saya lihat, kendaraan yang efektif itu hanya tiga unit kendaraan yang efektif, sedangkan yang lain operasional mereka banyak yang rusak. Itu yang menjadi kendala,” katanya.
Dia menerangkan, telah tekankan ke masing-masing sub agen untuk penyaluran minyak tanah harus diperhatikan.
“Untuk pangkalan di Pulau Rao saya sudah sampai di Kadis Perindagkop, tahun depan itu tidak lagi menjadi sub agen. Tapi dialihkan menjadi pangkalan,” tandasnya.(iki/red)










