“Keluarga yang beriman, harmonis, dan berkarakter akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, beretika, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, subtema Natal “Natal Menggerakkan Pemerintah dan Masyarakat Pulau Morotai Bersinergi Mewujudkan Daerah yang Unggul, Adil, dan Sejahtera” menegaskan bahwa nilai-nilai kasih dan keselamatan harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Bupati menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi dan kebersamaan seluruh pemangku kepentingan. Nilai-nilai Natal seperti kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial diharapkan terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Perayaan Natal ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun Pulau Morotai yang unggul melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, adil dalam kebijakan dan pelayanan, serta sejahtera melalui pemerataan hasil pembangunan,” tambahnya.
Pemda Pulau Morotai, lanjut Bupati, berkomitmen menjaga harmoni kehidupan antarumat beragama serta menjamin kebebasan beribadah bagi seluruh masyarakat. Kerukunan, toleransi, dan solidaritas sosial menjadi modal utama mewujudkan Morotai yang aman, damai, dan sejahtera.
“Saya mengucapkan selamat atas peresmian Gedung Gereja GPDI Jemaat El-Shamma Bido dan selamat Hari Natal 25 Desember 2025 kepada seluruh umat Kristiani di Kabupaten Pulau Morotai,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Daerah GPDI Maluku Utara, Pdt. Heri Mangadil, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas rampungnya pembangunan gereja tersebut.
“Firman Tuhan berkata, ‘Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya’. Ayat ini mengingatkan kita bahwa berdirinya gereja ini bukan semata karena kemampuan manusia, tetapi karena anugerah dan campur tangan Tuhan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gereja bukan hanya sebuah bangunan, melainkan persekutuan orang percaya yang bertumbuh dalam iman dan diperlengkapi untuk melayani.
Mengutip 1 Korintus 3:16, ia mengingatkan bahwa setiap orang percaya adalah bait Allah tempat Roh Tuhan diam. Oleh karena itu, gereja secara fisik juga harus menjadi tempat persekutuan, pembinaan iman, dan pelayanan kasih.
Pdt. Heri juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dalam pembangunan gereja tersebut.
“Bupati dan Wakil Bupati telah menjadi pengayom bagi seluruh umat beragama di Pulau Morotai. Semoga gereja ini tidak hanya menjadi bangunan yang megah, tetapi pusat pembinaan rohani, pelayanan kasih, serta doa syafaat bagi daerah ini,” tuturnya.
Ia turut menyampaikan empati kepada masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera dan Aceh, seraya mengajak jemaat untuk terus menyalurkan kasih dan kepedulian sosial.
“Kiranya melalui gereja ini, terang Tuhan terus bercahaya sehingga orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di surga,” pungkasnya.(iki/red)









