Koleksi Peninggalan Perang Dunia II di Morotai, Museum Muhlis Eso Jadi Rujukan Peneliti Dunia

MALUTTIMES – Museum sederhana milik Muhlis Eso di Desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan, Pulau Morotai, Maluku Utara, menjadi bukti bahwa Pulau Morotai menyimpan rekam jejak penting Perang Dunia II. Koleksi langka hingga dokumen rahasia dari Australia membuat situs bersejarah swadaya itu semakin diperhitungkan di mata peneliti internasional.

Kunjungan puluhan awak media yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Morotai (AJM) pada Jumat (28/11/2025) membuka kembali betapa kayanya museum ini menyimpan benda-benda autentik peninggalan pasukan Sekutu dan Jepang. Kehadiran para jurnalis ini bertujuan memastikan keberadaan jejak peralatan perang serta menelusuri kembali sejarah Morotai sebagai salah satu pangkalan penting dalam Perang Pasifik.

Muhlis Eso menjelaskan, museum yang ia bangun dengan biaya pribadi itu memiliki nilai historis tinggi karena mengoleksi peninggalan perang yang sulit ditemukan di tempat lain. Bahkan, lokasi museum tersebut dulunya digunakan sebagai tempat pemutaran film pada masa Perang Dunia II.

“Banyak koleksi di sini berasal dari tentara Amerika dan sekutunya. Sedangkan peninggalan Jepang bersifat misterius dan sangat sulit ditemukan,” ujarnya.

Ia mengaku memiliki misi besar untuk membuka akses pengetahuan sejarah bagi generasi penerus. Melalui museum ini, Muhlis berharap siapa pun yang ingin belajar, menulis sejarah, atau meneliti Perang Dunia II di Pasifik dapat memanfaatkan koleksi yang ia jaga selama puluhan tahun.

“Ini saya lakukan untuk generasi penerus bangsa, agar mereka tahu bahwa Morotai pernah menjadi salah satu medan penting Perang Dunia II,” katanya.

Tak hanya koleksi artefak, Muhlis juga menyimpan dokumen rahasia penting yang ia peroleh dari pihak asing. Salah satunya adalah poster yang memperingati penyerahan diri Tentara Kedua Jepang di Morotai pada 9 September 1945. Dokumen itu disumbangkan oleh Nicholas Hughes untuk mengenang ayahnya, Herbert Bristow Hughes, seorang tentara Australia yang bertugas di Morotai dan Tarakan pada masa perang.

Poster tersebut menampilkan Jenderal Sir Thomas Blamey bersama Letjen Beyyman saat menandatangani dokumen penyerahan diri sebuah bukti autentik yang memperkuat posisi Morotai dalam sejarah dunia.

Minggu terakhir November, museum itu kembali menjadi sorotan setelah dikunjungi delegasi dari Australia, Jerman, dan Inggris. Dalam kesempatan itu, Muhlis juga menerima penghargaan dokumentasi dari pihak Australia.

“Itu anak ketiga dari Jenderal Sir Thomas Blamey. Mereka datang dan menyerahkan dokumentasi agar sejarah ini tidak dilupakan,” bebernya.

Meski koleksinya bernilai tinggi, museum tersebut dibangun secara swadaya tanpa dukungan pemerintah. Muhlis berharap pemerintah pusat, provinsi, dan daerah dapat memberikan perhatian lebih agar situs sejarah di Morotai dapat dipelihara dengan layak.

“Saya berharap pemerintah bisa datang melihat langsung dan membantu merenovasi museum ini. Warisan sejarah dunia yang ada di Morotai harus dipelihara demi pendidikan dan pusat studi sejarah di masa depan,” pintanya.(iki/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *