Hegemoni, Oportunisme, dan Bahaya Divide et Impera dalam Gerakan Mahasiswa

Oleh : Wilda Cahyani

(Kader DPC GMNI Kolaka)

Dalam setiap gelombang perlawanan, selalu ada dua wajah yang saling bertarung: wajah perjuangan yang lahir dari kesadaran kritis, dan wajah manipulatif yang lahir dari kepentingan sesaat. Sejarah pergerakan membuktikan, rezim tak pernah bisa memadamkan gerakan mahasiswa tanpa bantuan “oknum internal” yang rela menjadi instrumen divide et impera. Mereka inilah yang menjual idealisme dengan harga murah, menukar darah dan air mata rakyat dengan kursi rapat serta jabat tangan kekuasaan.

Paulo Freire menyebutnya sebagai “kesadaran semu”—saat gerakan yang mestinya memihak rakyat justru terseret dalam ilusi kekuasaan. Sementara menurut Antonio Gramsci, hegemoni bukan hanya dominasi lewat kekerasan, melainkan juga melalui kooptasi nalar: bagaimana penguasa membuat yang tertindas ikut merayakan penindasannya sendiri. Inilah jebakan yang sedang bekerja. Gerakan mahasiswa dipelihara dalam bentuk seremonial, diberi panggung basa-basi, dielu-elukan sebagai “partner strategis” kekuasaan, lalu dicabut perlahan daya gugatnya hingga tak lebih dari ornamen demokrasi.

Padahal, sejarah perlawanan mahasiswa adalah sejarah keberanian menolak tunduk. Dari Trisakti hingga Malari, dari reformasi 1998 hingga berbagai episode perlawanan di daerah, mahasiswa selalu hadir bukan untuk sekadar menjadi pelengkap acara negara, melainkan sebagai penggugat yang tak kenal kompromi. Namun bahaya terbesar justru lahir ketika mahasiswa sendiri lupa pada akar perjuangan itu, dan membiarkan gerakannya dipelintir oleh oportunisme.

Karena itu, tugas mahasiswa hari ini jauh lebih berat dari sekadar turun ke jalan. Tugasnya adalah menjaga kemurnian gerakan dari infiltrasi kepentingan pragmatis. Gerakan yang tercerabut dari substansinya hanya akan menjadi fosil sejarah: dikenang bukan karena keberanian, melainkan karena pengkhianatan. Pengkhianatan itulah yang kelak akan menjadi noda abadi, bahwa di tengah rakyat yang ditindas, masih ada mahasiswa yang memilih berpihak pada kenyamanan.

Maka, waspadalah. Musuh gerakan bukan hanya yang berdiri di balik tameng aparat, tetapi juga yang bersembunyi di balik jaket almamater. Mereka yang berwajah mahasiswa, namun berhati rezim; mereka yang lantang bicara solidaritas, tapi diam-diam merawat kompromi. Di sinilah letak pertarungan sejati: menjaga agar gerakan mahasiswa tetap menjadi nurani rakyat, bukan sekadar catatan kaki dalam buku sejarah kekuasaan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *