Sebagai informasi, hasil kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura), kriteria visibilitas hilal yakni ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Cecep juga menjelaskan pengamatan hilal di beberapa wilayah di Indonesia. Dia menyebutkan data hilal di Merauke dan Sabang. Berdasarkan pemantauan itu hilal di Indonesia sore ini bisa diamati.
“Di Indonesia tinggi hilal 4,88 derajat. Ini di Merauke. Paling barat di Sabang, itu 7,63 derajat. Lalu kriteria berarti seluruh wilayah Indonesia sudah jauh di atas kriteria tinggi hilal Mabims 3 derajat,” kata Cecep.
“Sehingga kalau sampai ada yang melaporkan hilal di seluruh wilayah Indonesia itu sudah bisa dikategorikan hilal yang sudah masuk kriteria,” ujar Cecep.
Di Jawa Timur, hilal berhasil terlihat di Tanjung Kodok, Lamongan. Ada 3 orang tim pemantau hilal yang berhasil melihat hilal di tanjung yang berada di Kecamatan Paciran, Lamongan.
Tanjung Kodok Lamongan menjadi satu dari sejumlah titik pemantauan hilal penentuan 1 Syawal 1445 Hijriah. Tim pemantau hilal sudah melakukan pemantauan sejak Selasa (9/4/2024) sore.
Ada sejumlah orang dalam tim pemantau hilal yang melakukan pemantauan bulan sabit muda yang menjadi acuan pergantian bulan atau acuan permulaan awal bulan Hijriah.
Ketua Lembaga Falakiyah Lamongan HM Khoirul Anam sekaligus koordinator pemantau hilal menyebutkan bahwa dari sejumlah orang tim pemantau hilal yang melakukan pemantauan di Tanjung Kodok, Lamongan, ada 3 orang yang berhasil melihat hilal.
“Dari markas Tanjung Kodok yang melihat ada 3 orang dari total 250 perukyah dari bermacam lembaga. Ketiganya adalah KH Su’udul Azka dari Karanggeneng Lamongan, M Sabigul Khoir dari Jenu, Tuban, Pak Nur Hanafi dari Jenu, Tuban,” ujarnya kepada detikJatim, Selasa (9/4/2024).(red/detikcom)