Dia juga sesalkan pemerintah daerah yang terkesan enggan menyediakan anggaran operasional untuk mereka.
“Uang opersional tidak ada, jika terjadi pristiwa emergensi kaya begini memang susah. Awalnya teman-teman larang saya untuk datang ke lokasi, tapi saya paksakan untuk datang. Dan kami dilempari dengan batu, bahkan ada yang dapa pukul, itu normatif,” terangnya.
“Masyarakat marah, karena mereka menggunakan mobil air untuk padamkan api. Sementara mobil damkar datang terlambat. Kami paksa meski terlambat datang, untuk kase tunju (tunjukkan) ke masyarakat inilah kekurangan kami. Ini bukan berarti kami tidak jaga nama baik pimpinan, tapi mobil rusak kaya begini,” tutupnya.(iki/red)