Kepsek SDN 8 Morotai Bantah Tudingan Guru Soal Kehadiran dan Pengelolaan Dana BOS

MALUTTIMES – Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 8 Pulau Morotai, Min Djoge, membantah tudingan sejumlah guru yang menyebut dirinya jarang masuk sekolah serta tidak transparan dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Menurut Min Djoge, kehadirannya di sekolah justru lebih sering dibandingkan para guru yang melontarkan tudingan tersebut.

“Mengenai kehadiran, kalau dibandingkan dengan mereka, saya justru lebih sering hadir. Bahkan soal jam masuk, saya biasanya lebih dulu datang ke sekolah,” ujarnya kepada media ini, Jumat (10/04/2026).

Ia menjelaskan, beberapa kali tidak masuk sekolah disebabkan kondisi sakit. Namun, hal tersebut telah disampaikan kepada para guru melalui grup WhatsApp sekolah. Selain itu, jika harus meninggalkan sekolah lebih awal, hal itu karena memenuhi undangan resmi dari Dinas Pendidikan maupun kegiatan lain yang bertepatan dengan jam belajar.

“Kalau ada undangan, misalnya jam 9 pagi saat jam sekolah berlangsung, saya harus keluar lebih awal untuk menghadiri kegiatan tersebut,” jelasnya.

Min Djoge juga menegaskan bahwa dirinya tidak benar jika disebut jarang masuk sekolah. Ia mengaku kerap memimpin apel serta menjalankan aktivitas sekolah seperti biasa.

Terkait pengelolaan Dana BOS, ia turut membantah tudingan tidak transparan. Ia menyebut seluruh guru mengetahui besaran anggaran yang diterima sekolah.

“Jumlah siswa 29 orang, dengan nilai BOS sekitar Rp30 juta lebih per tahun. Pencairannya per triwulan dan digunakan sesuai peruntukan, seperti pembelian buku dan kebutuhan lainnya sesuai aturan,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa besaran dana BOS masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan operasional sekolah. Beberapa kebutuhan seperti honor operator sekolah, operator Dapodik, servis peralatan, hingga biaya perawatan lingkungan sekolah tidak tercakup dalam aplikasi ARKAS.

Karena itu, dirinya mengambil kebijakan untuk menalangi sejumlah kebutuhan menggunakan dana pribadi.

“Setiap pencairan, bendahara selalu menanyakan penggantian dana pribadi, tapi saya minta ditunda dulu. Sudah empat kali pencairan, namun anggaran habis untuk kebutuhan lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, persoalan tersebut telah diselesaikan melalui rapat bersama seluruh guru.

“Saya sudah panggil semua guru dan persoalan ini sudah diselesaikan,” tandasnya.(iki/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *