Kekuatan Jaring Nelayan Maitara


Oleh: Mansyur Armain

 

“Hampir setiap matahari terbit dan terbenam, saya harus berada di atas lautan. Tak mengenal panas dan hujan. Seakan jaring yang saya tenggelamkan di dasar laut, diharapkan ada kehidupan. Walau sedikit maupun hanya beberapa saja, itulah rezeki yang patut diungkap. Rasa syukur tak boleh dikeluhkan dari dasar laut,”Husen Adam.

Tiba di hari petang. Langit masih gelap, dan mentari pagi masih berada di ujung Halmahera. Laut tenang. Jaring yang belum habis dijahit, bertumpuk-tumpuk. Motor kayu, atau disebut orang-orang masyarakat Maitara,”pajeko” berlabu di ujung jembatan. Kira-kira sudah beberapa hari tak keluar memancing.

Saya, di waktu mendatangi para nelayan di Maitara Utara, di pukul 10.11 WIT, terlihat sejumlah ABK motor kayu nelayan sedang menjahit jaring. Dari pelabuhan Rum, menyeberang di Maitara, membutuhkan waktu sekitar lima menit.

Setelah tiba di jembatan, saya menggunakan bentor menuju ke Maitara Utara. Kalau di bilang biaya, hanya sebesar 5.000 rupiah. Dari situ, saya langsung bertemu dengan pak Husen Adam. Salah satu kepala ABK bersama anggota kelompoknya sedang asyik mejahit jaring.

“Jaring ini, yang sudah sobek dan sudah lama. Jadi, torang jahit ulang atau rehab. Karena ada jaring yang torang beli sediri, dan mau ganti. Tapi, harus kase sambung itu, sangat hati-hati sekali. Kurang tau, jaring ini selesai kapan,”cetus Husen.

Dari pantaun mata, di pantai, mereka lagi, menikmati kerjanya sembil bercanda tawa. Ada yang duduk, maupun berdiri menjahit jaring. Di sisi lain, mereka beritirahat dengan menghibur diri, memainkan tangan dari satu jaring ke jaring lain, mengikat, lalu bergerak lagi dan seterusnya.

Kalau dilihat, kekuatan jaring yang sementara dijahit itu, bagian dari kehidupan yang tak terlepas dari jejak masyarakat pulau Maitara secara umum. Itulah, di atas jembatan mereka dengan serius menikmati suasana, aroma lautan, dan batu karang paska air pasang. Tak lupa pula, tiupan angin pantai membuat mereka bisa bernostalgia dengan musik-musik yang didengar dari hanphone.

Husen bilang, di Miatara Utara maupun pulau Maitara secara keseluruhan, dari pesisir pantai, semangat untuk menghidupkan keluarga, maupun pemuda adalah jalan. Bukan hambatan. Bukan tantangan. Bukan pula keluh kesah yang selalu diucap dalam setiap nafas.

Dirinya, adalah kekuatan dan peradaban pulau, sebab sudah 20 sampai 30 tahun tak pernah alpa untuk bergerak menjaring ikan di perairan Kayoa, Bacan, maupun Obi.

Saya pun kembali bertanya kepada pak Husen (45). “Pak, jaring ikan itu, sudah berapa kali rahab atau diganti. Jawab, Husen,”sudah tiga kali. Kendalanya, torang rehab atau ganti ini, karena banyak jaring sudah sobek dan putus. Jaring ini saja. Kami pesan dari Manado, tapi kurang tau berapa haraganya”.

“Biasa torang pakai jaring ikan mulai dari Bacan, Kayoa, Obi, dan Patani. Kalau mangael dekat, torang kaluar malam, kalau jao, torang kaluar jao berarti agak pagi,”kata Husen saat berbincang dengannya di Maitara, Sabtu (22/11/2020).

Meski begitu, mereka yang menjahit jaring itu, terdiri dari 9 orang ABK dengan berkelompok dan dibantu oleh kepala ABK, pak Husen. Dengan panjang jaring sekitar 250 meter. Dari pesan jaring itu, bukan hasil dari pemerintah, tetapi kami secara pribadi untuk membeli.

Sembari menjahit jaring. Saya melihat, ada rasa syukur bagi nelayan Maitara yang hendak menjahit jaring, mulai dari terbit sampai terbenang matahari. Dari lubang jaring, ke berpindah ke satu jaring lain, adalah bukti pengalaman seorang nelayan.

“Bagi saya sulit, namun bagi mereka adalah mudah. Sebab, mereka sudah hampir 30 tahun di atas laut dan jaring tak terlepas dari tangan,”tanya saya pelan-pelan.

Secara umum masyarakat di pulau Maitara, hampir 80 persen berprofesi nelayan. Sebagai pulau nelayan, Maitara juga dikatakan sebagai pulau distinasi wisata yang luar biasa.

Sementara dari hasil tangkapan ikan, menurut Pak Husen, mereka menjual di Bacan maupun di Kota Ternate. Dan pula sebagiannya, untuk keluarga di rumah. Namun, yang sesungguhnya, soal berapa banyak ikan yang dijual itu, tergantung rezeki juga.

Tak terlepas dari itu, jaring yang sering dipakai oleh nelayan pulau Maitara, berukuran hampir 200 meter. Sebagaimana, jumlah motor ikan, atau “pajeko” yang ada di Maitara sudah setiap saat memakai jaring, kalau pergi memancing ikan.

“Kalau khusus pakai pajeko, jaring yang dipakai hanya ikan komo, dan ikan cakalang, maupun ikan kombong. Dan biasa, ketika setiap kelompok nelayan, mereka membawa jaring ke laut, membutuhkan orang 17 sampai 20 orang.

Sampai pada bagaimana cara menjual ikan, mereka menjual sebagiannya ke Bacan maupun ke Kota Ternate.(***)

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

BPKD Halbar Launching Program Inovasi Baru Pengelolaan Keuangan Daerah

Sel Nov 24 , 2020
JAILOLO – Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) menggelar Pelatihan Kepemimpinan Administrasi (PKA) Tingkat III Tahun 2020. Kegiatan ini sekaligus melaunching inovasi teknologi baru yakni Sentral Layanan Menajemen Terpadu (SELAMAT) dan Sistem Aplikasi Pengelola Keuangan (SIAP-PAK). Kegiatan dengan tema “Sistem Pengelola Keuangan” ini berlangsung di Kantor Bupati […]

BERITA LAINNYA

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!