Pidato Kebangsaan BADKO HMI Mal-Malut Menyongsong Hari Sumpah Pemuda

Oleh : AMIRUDIN
(Sekertaris Umum Badan Koordinasi HMI Mal-Malut)

 

Assalamu,alaikum, Wr. Wb.
Salam Sejahtera, Syalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

Salam Hormat dari kami Pengurus BADKO HMI Maluku-Maluku Utara buat Sadara-saudaraku dari pulau rondo hingga merauke, dari pulau Miangas hingga Pulau Deli, dari pulau Sekatung hingga Pulau Ndana.

Saya memulai pidato ini dengan mengutip sebuah sajak yang menggambarkan kenapa kita ada dalam forum ini, sajak ini ditemukan dikantung seorang perwira muda, yang gugur dalam pertempuran di Banten pada tahun 1946.

“Kita tidak sendirian
Beribu-ribu orang bergantung pada kita
Rakyat yang tak pernah kita kenal
Rakyat yang mungkin tak akan pernah kita kenal
Tetapi yang kita lakukan sekarang akan menentukan apa terjadi kepada mereka”.

Saudara – saudara sebangsa dan setanah air
Dunia abad 20 berbeda dengan dunia abad 21. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, membuat perubahan-perubahan ekstra cepat. Status warga negara disaat yang sama merupakan warga dunia dimana tapal batas antar negara semakin buram. Keberlangsungan hidup dan eksistensi suatu bangsa, sangat dipengaruhi oleh kemampuan bangsa tersebut dalam memahami dan menguasai kondisi geografi serta lingkungan sekitarnya.

Tumbuh kembangnya atau berkurangnya ruang hidup bangsa, juga dipengaruhi oleh pandangan geopolitik yang diyakini oleh entitas suatu bangsa. Karena itulah, marilah mengintropeksi diri sebagai otokritik terhadap status kewarganeraan kita, untuk menemukan sensasi baru sebagai sebuah bangsa. Sebab nampaknya bangsa kita terbelah akibat dari terkikisnya spirit yang melekat pada simbol rakyat yang jauh sebelumnya dikonstruk oleh para pemuda-pemudi dengan meletakan identitas kolektif baru kepada seluruh warga yang ada diteritorial nusantara yaitu bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia.
Bung Karno pernah berpesan:

Jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia sekarang, yang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir. Api sumpah pemuda harus kita nyalakan dan terus kita kobarkan dalam dada setiap pemuda Indonesia.

Saudara – saudara sebangsa dan setanah air bahwa spirit identitas kolektif kala itu, berangkat dari upaya untuk menghapuskan segala bentuk praktek feodalisme dan kolonialisme. Identitas baru sebagai sebuah bangsa Indonesia itu adalah tanah, Pulau, laut dan udara sebagai ruang hidup rakyat yang tak mengenal ras serta agama tertentu. Kalau negara gagal dalam merekonstruksi identitas kolektif baru ini, maka social capital sebagai modal kita akan terporakporanda ditengah isu globalisasi yang riskan dengan disintegrasi bangsa.

Sebab itu fasilitas pendidikan dan kesehatan sangat vital untuk menghadapi kompetisi global yakni 1) perubahan-perubaha demografis 2) perubahan perubahan strukur dilapangan kerja 3) arah perkembangan sains dan tekhnologi. Jika tidak social capital berakibat fatal terhadap penyimpangan sosial (HAM, dan pelanggarn hukum lainnya). Bahkan keamanan negara pun terancam, ketika di susupi isu rasial yang tak lain adalah upaya penguasaan Sumber Daya Alam (SDA).

Tanah tidak termanfatkan untuk produksi pangan hingga harus Impor dari Luar Negeri. sumberdaya mineral kita tidak dikembangkan untuk kemajuan teknologi serta laut dan udara dieksploitasi atas nama pembangunan.

Hei Pemuda-Pemudi Indonesia…!

Bukankah semangat kemerdekaan itu sebagai upaya penghapusan segala bentuk penjajahan dan penindasan. Bukankah Indonesia itu adalah negara kepulauan yang telah diakui oleh Konvensi PBB yang mengakui Indonesia sebagai negara Kepulauan. Bukankah tumbangnya orde lama dan Orde Baru adalah puncak dari otoritarianisme yang kekuasaan sentralistis. Bukankah spirit Reformasi sebagai upaya pendistribusian keadilan dan mengatasi disparitas pembangunan lewat Desentralisasi.

Tetapi UU 22 tahun 1999, UU 32 tahun 2004, UU 23 tahun 2014 tentang pemerintahan Daerah, tidak menggambarkan kesadaran geopolitik dan geostrategi bangsa Indonesia sebagai Negara Maritim. Laut Hanya dianggap sebagai benda mati yang tidak dilindungi oleh Undang-Undang sebagai Ruang Hidup rakyat. Undang-Undang Omnibus Law di sahkan sebagai upaya menciptakan Lapangan Kerja, tetapi di saat yang sama arus tenaga kerja asing (TKA) yang tidak memiliki skill terus membanjiri lapangan kerja di bidang pertambangan.

Perijinan dipermudah dan menarik wewenang pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Undang-Undang KPK dan beberapa RUU lainnya disahkan dengan alibi sebagai kekosongan hukum dan pembangunan. Sementara RUU Daerah kepulauan yang diperjuangkan oleh 8 Provinsi, serta 85 Kabupaten Kota, tidak kunjung disahkan. Ini berati Negara sengaja memperlemah kedaulatan NKRI dan sengaja menciptakan kesenjangan social antar daerah dan pemuda.

Padahal spirit untuk mendorong RUU Daerah kepulauan tersebut, bukan saja berbicara pengaturan Ruang/wilayah Pengelolaan, Urusan/Penambahan Kewenangan, Fiskal/Pendanaan Khusus, tetapi lebih pada upaya perlindungan pulau-pulau kecil dikawasan perbatasan negara, perampasan ruang hidup dari eksploitasi corporate yang melanggar etika lingkungan (environmental ethics) dan peraturan perundandangan yang berdampak terhadap proses pembangunan berkelanjutan.

Dalam pidato peresmian Lemhannas RI tahun 1965, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, menegaskan bahwa pertahanan nasional hanya dapat dilaksanakan secara sempurna, bila suatu bangsa mendasarkan pertahanan nasional atas pengetahuan geopolitik.

Karena itu, ekologi Laut dan Pulau-Pulau kecil, ekologi hutan harus dilindungi sesuai dengan tujuan kita bernegara yaitu melindungi segenab bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dan Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.

Saudara – saudara sebangsa dan setanah air
Seting Pendidikan abad 21 Menggiring Umat Manusia berpikir Universal yakni hanya sebatas memenuhi pasar tenaga kerja global yang kompetitif. Sepintas cara pandang kita seolah telah menyongsong era Informatif, tetapi ada distorsi ide yakni memandang manusia sebagai sumber daya (Human Resources) yaitu sebagi objek pasar.

Berpikir Universal Haruslah memperhatikan kualitas manusia (Human Development), karnanya Air, Energi dan Lingkungan Hidup harus di Mulai dalam strategi Perencanaan Nasional. Dengan demikian, Manusia Indonesia Masa depan yang cerdas dan sehat, adil serta makmur mampu bersaing.

Pertemuan pemuda pada kesempatan ini, haruslah ada Konsensus Nasional tentang basis ide perjuangan & pergerakan kita. yaitu perlindungan terhadap lingkungan Hidup, ekologi Pulau-Pulau Kecil, Ekologi Laut.

Sebab itu sangat bersentuhan dengan Petani, Nelayan dan Buruh di seluruh Indonesia dan mampu membangkitkan ekonomi kerakyatan sebagai penopang masa depan yang adil dan makmur.

Hidup Pemuda,
Hidup Mahasiswa
Hidup Buruh
Hidup Kaum Tani
Hidup kamu Miskin Kota
Hidup Rakyat

Merdeka, Merdeka, Merdeka

(***)

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bocah 11 Tahun Hilang di Sungai Tauro Halbar

Kam Okt 29 , 2020
Oleh : AMIRUDIN (Sekertaris Umum Badan Koordinasi HMI Mal-Malut)   Assalamu,alaikum, Wr. Wb. Salam Sejahtera, Syalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Salam Hormat dari kami Pengurus BADKO HMI Maluku-Maluku Utara buat Sadara-saudaraku dari pulau rondo hingga merauke, dari pulau Miangas hingga Pulau Deli, dari pulau Sekatung hingga Pulau Ndana. Saya memulai […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!