UBAID ADALAH PAK DIN

Oleh: Emka

 

Saya ingat, ingat sekali hari kematian Pak Din. Dia meninggal di hari Jumat. Saat-saat orang mengantarnya pada podium poilitik yang telah disediakan untuknya. Kata terakhir pada pidatonya yang tak mungkin dilupakan orang terutama masyarakat Halamahera Timur (Haltim) adalah “kita harus menang”. Kata itu terekam dalam saraf otak manusia. Jika orang menyebut kata itu, pikiran dan ingatan langsung tertuju pada Pak Din.

Pak Din meninggalkan “meme” yang menyebar ke otak masyarakat Haltim. Meme “kita harus menang” itu tersebar dan telah menjadi virus yang oleh Richard Brodie sebuat sebagai “virus akal budi” meski Dia juga merujuk pada Richard Dawkins. Virus itu menular dari otak ke otak dan menjangkiti pikiran manusia yang menyebarnya. Itulah meme yang ditinggalkan oleh Pak Din.

Pak Din meninggal dalam momen poltik Haltim. Belakangan (setelah kematia Pak Din) politik Haltim begitu memanas. Antar kubu saling serang dengan narasi yang tidak sehat dengan menjadikan facebook sebagai mediumnya. Padahal jika medium itu digunakan sebagai tempat untuk menyebar visi dan program itu jauh lebih menyehatkan ketimbang saling menyindir.

Saya benar-benar tidak tahu siapa yang memulai membangun narasi-narasi yang tidak sehat, tetapi yang jelas, narasi-narasi yang tidak sehat itu lebih banyak dimotori oleh kelompok intelektual Haltim. Maka, benar kata Burhanudin Muhtadi pada bukunya Vote Buying Indonesia; perusak demokrasi justeru lebih banyak datang dari kelompok berpendidikan. Cara melawan itu hanyalah dengan pikiran. Pikiranlah yang harus digerakan, bukan sentiment atau identitas.

Pak Din memang telah meninggal, tetapi semangat dan pikiran Pak Din untuk membangun Haltim masih tetap tumbuh dan terus dilanjutkan. Pikiran Pak Din dalam membangun Haltim kedepan dilanjutkan oleh Drs, H. Ubaid Yakup. MPA yang merupakan suami dari Hj. Siti Ma’bud. Siti Ma’bud adalah adik kandung dari Pak Din.

Layaknya kerja teori evolusi biologis yang menyeleksi kondisi alamiah untuk melahirkan sesuatu. Dalam politikpun, evolusi bekerja, eveolusi bekerja melahirkan pemipin yang terseleksi berdasarkan kondisi alamiah. Dia (pemimpin) terbentuk bukan karena setingan atau desain (dandanan) tetapi karena memang kondisi alamiah yang memutuskan untuk melahirkan pemipin meski melalui jalur politik, mereka (pemimpin) yang lahir melalui proses evolusi alamiah yang terseleksi secara bilogis memiliki apa yang disebut sebagai karisimatik. Karismatik hadir tidak melalui proses setingan atau desain oleh team atau konsultan, tetapi person (karakter pemimpin) yang telah terbentuk secara alamiah melalui seleksi bilogis.

H. Ubaid Yakub atau disapa Ubaid adalah pemimpin yang lahir melalui proses evolusi (politik) itu, dan karsimatiknyapun terbentuk secara alamiah. Untuk konteks Indonesia, karakter pemimpin karismatik yang lahir dari proses seleksi alamiah memang tidak banyak, salah satunya adalah Soekarno. Karismatik memang memiliki kaitan dengan genopolitik (keturunan). Orang yang memiliki karismatik (pemimpin) bisa memberikan dampak yang baik untuk masyarakat. Setidaknya Soekarno telah membuktikan itu dengan melahirkan Indonesai hari ini.

Ubaid muncul dengan seleksi alamiah, meski diputuskan lewat jalur partai pendukung. Dia seakan dititipkan oleh Pak Din (semacam wasiat yang tak tersirat) untuk menyelamtkan Haltim dari kelompok oligarki yang berafiliasi dengan partai politik yang mempunyai tujuan untuk mengekploitasi SDA Haltim. Apalagi Haltim memiliki potensi kekayaan alam dan kualitasnya begitu dibutuhkan oleh negara-negara industri maju seperti China, Jepang dan lain-lain.

Secara biologis, Ubaid memang bukan Pak Din yang dilahirkan kembali. Tetapi pada konteks sosial-politik Ubaid adalah Pak Din. Dalam politik (Haltim) misalnya, Ubaid hadir menggantikan Pak Din yang diusung oleh partai pendukung yang semula mengusung Pak Din. Pada panggung-panggung kampanyenya, Ubaid masih tetap konsisten menyampaikan pikiran-pikiran Pak Din, legacy yang ditinggalkan Pak Din adalah pikiran-pikiranya. Pikiran itulah, yang dilanjutkan oleh Ubaid. Maka, tak ada yang mampu mengalahkan pikiran selain pikiran itu sendiri. Pikiran itu harus diorganisir lewat jalur politik Haltim sekarang ini.

Pada konteks sosial (terutama masyarakat Haltim yang diperlihatkan dalam video-video kampanyenya), terlihat antusias masyakat pada Ubaid. Orang berempati padanya, bahkan ada yang menangis ketika melihatnya, kenapa?, karena teringat wajah Pak Din. Melihat Ubaid adalah mengingat Pak Din dan mengingat Pak Din adalah melihat Ubaid. Itulah yang dirasakan oleh masyarakat Haltim hari ini. Ubaid seakan membangkitkan populisme lokal (Haltim) agar tidak jatuh pada pemipin yang berafiliasi dengan oligarki lokal. Karena itu Pak Din berwasiat KITA HARUS MENANG.(***)

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kemenag Halbar Gelar Diklat Teknis Penyuluh Agama Non PNS

Ming Okt 25 , 2020
Oleh: Emka   Saya ingat, ingat sekali hari kematian Pak Din. Dia meninggal di hari Jumat. Saat-saat orang mengantarnya pada podium poilitik yang telah disediakan untuknya. Kata terakhir pada pidatonya yang tak mungkin dilupakan orang terutama masyarakat Halamahera Timur (Haltim) adalah “kita harus menang”. Kata itu terekam dalam saraf otak […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!