Media, Ruang Menghidupkan Literasi

Oleh: Mansyur Armain

Jurnalistik atau journausme  berasal dari perkataan journal,  artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari perkataan Hikmat Kusumaninggrat dan Purnama Kusumaninggrat, (2017), itulah kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.

Apa yang dimaksud dengan pers? Pers berasal dari perkataan Belanda pers yang artinya menekan atau mengepres. Kata pers merupakan padanaan dari kata press dalam bahasa inggris yang juga berarti menekan atau mengepres. Jadi, secara harafiah kata pers atau press mengacu pada pengertian komunikasi yang dilakukan dengan penataraan barang cetakan. Tetapi, sekarang kata pers atau press digunakan untuk merujuk semua kegiatan jurnalistik, terutama kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun berita, baik oleh wartawan media Elektronik maupun wartawan media cetak.

Seperti juga Negara yang memiliki fasafah, pers pun memiliki falsafahnya sendiri. Falsafah atau dalam bahasa Inggris Philosophy salah satu artinya adalah tata nilai atau prinsip-prinsip untuk dijadikan pedoman dalam menangani urusan-urusan praktiks.

Terlepas dari itu, MacDougall, menyebutkan bahwa journalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa. Jurnalisme sangat penting dalam suatu Negara demokratis.

Dewasa ini, kita banyak temukan perkembangan media cetak dan online menggurita di Indonesia. Eka Wenats Wuryanta, (2010), mengatakan, Indonesia mengalami perubahan sosial politik yang cukup mendasar. Kehidupan demokrasi yang sangat stagnan pada masa orde baru, kini mulai bernafas lega adalah indikator kebebasan pers atau media yang pada waktu Orde Baru mengalami pemasungan luar biasa.

Kini, penguatan peran media dalam kehidupan sosial semakin dirasakan sebagai factor postif perubahan sosial di Indonesia. Meskipun penguatan peran dan aktivitas media setelah “lengsernya” Seoharto masih mempunyai dampak negative, tapi telah terjadi perubahan iklim yang sempat “dirayakan” oleh para pelaku industri media di Indonesia.

Menurut Muhidin M.Dahlan dalam tulisannya di kompas,(2020), jika Juni dirayakan kaum Nasionalis sebagai “Bulan Seokarno,” Agustus mestinya menjadi “Bulan Resvolusi”. Sebuah momen di mana Negara berbentuk republik bernama Indonesia dilahirkan dan api revolusi disuluh.

Muhidin berpandangan, di lembar koran, baik luring maupun during, tak pernah ada catatan untuk merenungkan, misalnya, betapa revolusionernya kaum jurnalis itu dalam “Revoulsi Agustus” yang berapi.

“Saya menduga itu terjadi karena memang buku-buku sejarah kita, terutama sejarah revolusi Agustus itu, sudah (di) bersih (kan) dari peran-peran penting para jurnalis. Sebab setelah Agustus, semua wacana diambil  alih militer tanpa menyisakan secuil pun wilayah kaum jurnalis,”singkat Muhidin.

Sekedar menciptakan ruang literasi, media pada dewasa ini, tetap mendorong dunia intelektual, guna membuka akses jaringan humanis untuk kepentingan publik dan masyarakat umum. Literasi dalam KBBI, telah dijelaskan”kemampuan menulis dan membaca. Kemmpuan memahami teks tertulis (tersurat maupun tersurat) dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan menuangkan idea atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial”.

Ismit Alkatiri, dalam sambutan buku “Ternate Yang Meluruh” bahwa ada dua hal yang patut dicatat dari kehadiran Ternate yang Meluruh. Pertama, setiap penerbitan media massa, khususnya surat kabar di suatu daerah telah ikut mendorong tradisi intelektual. Hampir setiap hari, halaman-halaman koran diwarnai dengan aspirasi publicans, gagasan para pemikir, dan sikap dan tindakan para pengambil kebijakan.

Kedua, berita yang disajikan di surat kabar memang merupakan karya intelektual. Hanya saja, karya intelektual yang dilahirkan kaum profesi jurnalis itu senantiasa terhapus waktu.

Jika pada masa lalu, media massa cenderung disalahkan karena efek yang ditimbulkan atau objektivitas beritanya yang diragukan, maka dewasa ini muncul pengertian yang lebih baik terhadap media massa. Secara bertahap perhatian juga diberikan pada isi media massa yang bersifat non berita seperti drama, musik, dan hiburan lainnya.

Pertarungan Kekuatan Pada Media Massa Dan Pengaruh Terhadap Menejemen, Morisson (2010), bahwa kekuatan itu mencakup, factor-faktor proses globalisasi, konglomerasi dan fragmentasi media sertu munculnya teknologi baru dalam distribusi isi media seperti televisi kabel, satelit, dan jaringan telekomunikasi.

Sebagai jurnalis, dituntut bukan sekedar ansi melakukan kerja-kerja jurnalistik, namun sepatutnya, pengabdian dalam mengedepkan misi keliterasian di ruang-ruang publik, membuka akses di kelurahan desa, mengajari membaca lalu mempraktekkan menulis terhadap anak-anak pelajar, maupun mahasiswa,  serta menganalisis kehidupan orang-orang dengan keterbelakangan. Oleh Sindhunata, (2019), yang dikisahkan Kartono dalam pengalaman menjadi wartawan foto,”jujur terhadap fakta,” itulah moralitas jurnalistik, yang saya peroleh ketika hidup bersama Kartono, yang kemudian dirangkumkan dalam rumusan kerja jurnalistik di atas,”singkat Sindhunata.

Dalam kisah Kartono yang ditulis oleh Sindhunata, wartawan pada awalnya pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak. Agar lebih provokatif dan mudah diingat, ia lebih suka menyingkat rumusan itu menjadi; Wartawan adalah pekerjaan kaki, bukan pekerjaan otak.

Seperti yang tertuang dalam misi Kompas, bahwa Humanisme terus terbentuk karena manusia setia menekuni tradisi humaniora. Dan unsure pokok humaniora adalah kecintaan untuk membaca teks-teks klasik. Maka tak terbayangkan bahwa wartawan Kompas bisa membangun jurnalisme humanistisnya tanpa kecintaannya untuk membaca sastra-sastra klasik. Jakob Oetama sendiri dibesarkan oleh humaniora ini, karena itu tak bosan-bosannya mengingatkan kepada wartawannya untuk membaca teks-teks klasik.

Tapi ada kalangan wartawan yang menjuluki pak Jakob Oetama [dan kompas] sebagai pelopor jurnalisme kepiting. Istilah itu kali pertama disebut oleh Rosihan Anwar, dan Rosihan tentu bermaksud menyindir Kompas dan pak Jakob. Rosihan adalah eks pemimpin redaksi koran Pedoman, yang setelah korannya ditutup, justru banyak menulis di Kompas.

Rosihan menyebutkan Pak Jakob sebagai pelopor jurnalisme kepeting, sebab dia menganggap Kompas dengan pemberitaan tak berani secara langsung mengkritik pemerintah di zaman Orde Baru. Mirip kepiting  yang berhati-hati atau waspada berjalan: Melangkah bila aman, mundur bila berbahaya, Rusdi Mathari, (2018).

Pengetahuan menghidupkan literasi, basisnya adalah media. Kekuatan mendapatkan sejumlah pengalaman dengan segala liku-likunya, wartawan tampak kebanyakan merangkul anak-anak pelajar, pemuda, tokoh masyarakat, agama demi mendapatkan bagaimana menjawab fakta, mengerti kata, menata langkah, dan mengedukasikan keinginan serta berbagi kelebihan.[***]

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Warga Desa Waitina Polisikan Pengurus KUR Bank Arta Graha

Kam Sep 17 , 2020
Oleh: Mansyur Armain Jurnalistik atau journausme  berasal dari perkataan journal,  artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari perkataan Hikmat Kusumaninggrat dan Purnama Kusumaninggrat, (2017), itulah kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!