SAIL TIDORE DAN KEGELISAHAN GENERASI MUDA

Oleh: Mansyur Armain

 

Kedatangan hening malam. Langit menginjinkan hujan turun. Kepada waktu, kepada panggilan nurani, kepada semangat, maupun menginginkan masyarakat harus mengenal lebih jauh Sail Tidore.
Hitam di langit. Cahaya di jalan-jalan redup saat gerimis turun.

Berlahan dan tidak berpindah sedikitpun peserta diskusi dengan tema “Menuju Sail Tidore 2021, Sejauh mana keterlibatan Kesultanan Tidore” yang dimedisasi oleh komunitas rumah bacarita yang bertempat di Kora-kora Café Kelurahan Indonesiana, Sabtu (23/8/2020) malam.

Tidak terlalu lama, di pukul 20.00 WIT, moderator mengambil mike membuka acara diskusi. Gerimis masih saja turun. Tak yang ada berpindah dari tempat duduk. Satu persatu orang datang. Bahkan dari berbagai kampung di Tidore. Bukan hanya itu, teman-teman yang berasal dari Gam Range, Weda, Patani, Maba turut hadir dalam diskusi tersebut.

Menjelang pemaparan materi, rumah bacarita mengundang atau mewakili dari pihak Kesultanan, Bakri Dano dan Sangaji Laho, Umar Yasin mengambil tempat di depan. Malam itu, hampir sebagian orang dari berbagai kampung memadati tempat duduk. Walaupun yang lain tidak mendapatkan tempat duduk.

Suasana sangat ramai. Ditambah racikan kopi khas kora-kora Café. Tidak ada menu lain, selain kopi. Yang ada hanya kebersamaan dan kekuatan mendengarkan isi materi yang akan disampaikan oleh Ko Bakri dan Jou Sangaji laho, Umar Yasin.
Diskusi pun mulai. Moderator sekaligus koordinator Rumah Bacarita, Uchen sapaan akrab mempersilahkan Ko Bakri untuk menyampaikan materinya.

Menurut Ko Bakri, ”saya hanya meneruskan pesa dari Jou Sultan Tidore H.Husian Alting Sjah, dirinya sangat risau dan memprihatinkan dengan kondisi Sail Tidore, sebab Sail Tidore perlu dilihat lebih besar daripada Sail Morotai,” katanya.

Berkaitan dengan itu, sebagai Wali Kota sampai saat ini belum ada komunikasi kepada pihak Kesultanan Tidore , baik dari Pemkot Kota Tikep maupun Provinsi Maluku Utara dalam menyambut Sail Tidore di tahun 2021.

Ko Bakri bilang, ada sebagian dari Kementerian RI merasa kecewa sebelum pendemi dengan membentuk panitia persiapan Sail Tidore, bahkan di beberap kesempatan lalu, hampir unsur masyarakat tidak terlibat.

“Kalau kita mengijinkan acara ini bisa berlangsung yang bisa memberikan dampak baik terhadap kita, paling tidak, kita meluangkan waktu mempertanyakan kepada Pemerintahan Kota Tikep maupun Pemprov. Sebab kewibawaan kita dan sebuah identitas Kesultanan Tidore,” tegas Ko Bakri sapaan akrabnya.

Setelah pemaparan singkat dari Ko Bakri. Peserta yang hadir malam itu, sontak memberi semangat dan bertepuk tangan. Sementara anak muda sebagian memberi apresiasi maupun bergembira.
Dalam kesempatan yang sama, Sangaji Laho, Umar Yasin, bicara tentang Sail Tidore, maka tidak terlepas dengan perjalanan 500 tahun perjalanan Magellhens, sebab antara Sail Tidore dan napak tilas, dua hal yang berbeda bahkan pada subtansinya berbeda pula.

Umar Yasin mengatakan, dalam perjalanan Magellhens adalah berbicara tentang sejarah. Tentu, berkaitan dengan parawisata. Bahwa Sail Tidore ini, ia berada di Pemerintah Pusat atau Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Karena Tidore adalah salah satu Kabupaten Kota di Indoenesia yang memasukan Indonesia bergabung dengan Global Network Of Magellan Cities (GMNC).

“Saya kira ini, Sail sebuah kado terindah dari Kesultanan Tidore terhadap Indonesia. Tanpa Tidore, Indonesia tidak akan masuk ke kelompok GMNC. Sebab semua Negara berlomba-lomba bisa masuk ke GMNC, dan banyak orang lupakan,” ucap Umar.

Umar bilang, pada konteks hari ini, Kesultanan Tidore mempunya peran yang cukup besar dalam Sail Tidore. Namun, ketika dalam pertemuan-pertemuan di Kadaton Kesultanan Tidore, tidak pernah menyinggung soal Sail Tidore.

“Bahkan sampai saat ini, titik dimana kapal Juan Sebastian Delcano belum ketahui dan masih diperdebatkan. Saya khwatir, jangan sampai kita taru di titik A mereka datang di titik B, makanya inilah aib bagi kita semua,” tambahnya.

Ketika berdiskusi dengan Dinas Parawista dan Kebudayaan Kota Tikep beberapa bulan lalu, ketika Almarhum Sekkot Tikep, mengatakan tempat pendaratan Juan Sebastiah Delcano di Rum, “dan saya tanya, referensi apa yang dipakai,” tuturnya.

Maka dari itu, kita perlu luruskan sejarah dulu. Sail Tidore harus dipahami, Tidore akan dipromosikan ke dunia Internasional, tetapi ayang perlu kita jual Tidore. Kenapa Morotai bisa, Tidore tidak bisa, ini yang ditanyakan kepada Pemkot Tikep.

“Persoalannya sederhana, kita tidak memahami apa yang diinginkan oleh pemerintah pusat. Pemerintah pusat berkeinginan Tidore bisa ditampil di internasional, tetapi kita tidur. Dan itu, Kesultanan Tidore, tidak pernah terlibat dalam Sail Tidore, sebab kita pada setiap pertemuan tidak pernah membahas persoalan dengan Sail,” pungkasnya.

Bukan hanya itu, Kesultanan hingga saat ini, tidak disampaikan konsep Sail Tidore seperti apa. “Saya sarankan, kepada setiap Komunitas di Kota Tikep, untuk bisa melakukan audens dengan Pemkot Tikep maupun panitia, mempertanyakan konsep Sail Tidore yang dipakai seperti apa,” tukasnya.

Usai paparkan materi, moderator menyerahkan untuk semua orang untuk bertanya. “Di hadapan saya, masing-masing tangan diangkat. Ramai-ramai. Dengan mewakili berbagai kampung. Bahkan saya pun belum diberikan kesempatan bertanya,” ucapanya.

Gerimis bercampur perasaan. Bertanya, walaupun pernyataan berbenturan. Itulah semangat anak-anak Tidore menjelang Sail Tidore. Mereka dengan kepercayaan diri bertanya.

Pertanyaan mulai diberikan kepada masing-masing peserta disukusi. Dari sisi kanan, Ibrahim Yusuf, disisi kanan ada Haris Ahmad, Iki dan peserta satunya lagi saya lupa namanya.

Dari berbagai pertanyaan tentang Sail Tidore tentang kegelisahan generasi muda Tidore dimulai hari ini.

“Bagi Sangaji Laho, sempat bercerita bahwa, beberapa bulan lalu, dari GMNC menelpon kepada saya, namun saya batasi bertemu dengan dirinya di Mareku. Keinginan saya, bahwa kalau mereka datang, yang pasti menyiapkan menu makan dengan khas adat istiadat orang Tidore, karena saya tidak mengingkan ada intervensi dari Pemerintah Kota Tikep,” tegas Umar.

Bukan hanya itu, dirinya melibatkan semua pemuda di kelurahan Mareku yang tahu berbahasa ingris bisa damping para peserta GMNC. Bahkan Sangaji Laho, memberikan cendramata dengan memberikan cengkeh dan pala, masing-masing stengah kilo pada saat itu.

“Bagi saya, kalau libatkan Parawisata dan tidak melibatkan masyarakat, maka tentu Sail Tidore berjalan sia-sia. Torang (kami) punya budaya yang kuat, maka pertanyaanya apa yang kita jual Tidore,” katanya.

Haris Ahmad peserta dari Kelurahan Mareku, dengan kegelisahannya, bahwa konsep dari Sail Tidore, saya tidak tertarik. Hakekatnya, Sail Tidore diwali dengan pertemuan di Sevila sebelum itu, sehingga lahirnya Sail Tidore.

“Karena pertemuan tersebut di Sevila dengan melibatkan 23 Negara yang tergabung dalam GMNC, sehingga lahirnya nama Sail Tidore,” tambahanya.

Dengan suara lantang, Haris, menjelaskan, Sail Tidore sudah dirancang 300 tahun lalu, sebelum Sail Tidore. “Saya berpandangan agenda Sail Tidore, adalah agenda tiba saat tiba akal. Sail Tidore adalah roh dari napak tilas perjalanan Juan Sebastian Delcano, hanya saja Pemkot menumpang,” tegasnya.

Selain itu, Sail Tidore, bukanlah hajat Pemkot Tikep, tetapi justru hajatan semua masyarakat Kota Tikep. Ada dua hal yang berbeda, yakni Sail Tidore dan Napak Tilas.

“Saya menyarankan hasil dari diskusi ini, mesti ada rekomendasi ke Pemkot Tikep untuk kita melakukan uadens dengan mereka di tempat kora-kora Café,” cetus Haris.

Saura lantang terus berkomendankan malam itu. Semangat terus mengalir, hingga langit kembali bersinar. Bulan-bintang membuka sinarnya, dan gerimis pun tak lagi menetes.

Hening seketika. Dari belakang, seorang pemuda mulai bertanya. Dari hasil Sail Tidore, saya sarankan untuk menulis tentang buku sejarah dan dibukuhkan kemudian diberikan kepada anak-anak sekolah dasar?.

Ada lagi, suara dari teman-teman Gam Range. Bahwa Sail Tidore, seharusnya ada keterlibatan masyarakat Gam Range, Weda, Patani, Maba. Sebab pengakuan dari Gam Range adalah adalah bagian dari sejarah Kesultanan Tidore.

Meski begitu, Jou Sangaji Laho, merespon dengan rendah dan sepenuh semangat yang menyala-nyala. Bahwa kado terbesar bagi Indonesia masuk sebagai GMNC, dan kalau berkaitan dengan napak tilas, maka mari kita luruskan sejarah.

“Sejarah itu, penting bagi kehidupan manusia. Bahwa di dalam Al-quran, sebagian besar menjelaskan tentang sejarah. Coba kita buka peristiwa Nabi Adam sampai pada kisah Nabi Muhammad SAW. Intinya, bahwa Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa sejarah itu penting. Bahkan lebih hebat, ketika Allah meletakan rukun islam bahkan pada rukun haji, apakah torang (kami) lupa,” tuturnya.

Sedangkan, dalam kesempatan yang sama, Ko Bakri berpandangan, kalau sejarah Tidore, tentunya berbicara tentang sepertiga wilayah Indoensia Timur. “Kadang dari pertanyaan dari awal, bahwa keresahan ini, bukanlah mencari kesalahan tetapi kita bersama mencari solusi terbaik, agar Sail Tidore atau GMNC dapat berjalan dengan baik.

“Kita bangga bahwa, bangsa-bangsa yang datang di Tidore, mereka bangga kepada sejarah kita dan pemerintahan kita. Kita menyadari, saat ini ada persatuan yang terkoyak dan ada rasa kebangsaan yang menipis, dan ada demokrasi yang sudah melenceng. Oleh karena itu, kita perlu defenisi kembali, demokrasi kita harus jalankan dengan rasa kebangsaan dan prinsip-prinsip keanekaragaman,” ungkap Ko Bakri.

Bahwa secara kasat mata, Pemerintah Kota Tikep dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, maupun Kabupaten Kota lain, tidak berdiri di atas tanah yang kosong. Tetapi berdiri di atas Kesultanan Tidore, maka dari itu, mari kita berbuat adil demi rakyat.

Diskusi tetap berjalan. Pertanyaan-pertanyaan dan kemungkinan terus dibungkam. Menjelang larut malam, sunyi dan lorong-lorong pasar sarimalaha sedang bersuara. Lampu-lampu masih bersinar. Gelap diseberang tempat diskusi. Tanda. Kopi dingin, menambah mata hati terus bertanya tentang sikap.

Di penghujung larut malam, satu per satu peserta menghilang dari diskusi. Tertinggal ampas kopi, embun, dan sisa tumpung rokok yang berhamburan. Meninggalkan bekas pikiran dan kesadaran terhadap cerita Sail Tidore. Berjabat tangan dan saling mengepresiasi diskusi Sail Tidore.[***]

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

8 Tahun Buron, Terpidana Korupsi Dana Usaha Ekonomi di Halut Ditangkap

Sab Agu 29 , 2020
Oleh: Mansyur Armain   Kedatangan hening malam. Langit menginjinkan hujan turun. Kepada waktu, kepada panggilan nurani, kepada semangat, maupun menginginkan masyarakat harus mengenal lebih jauh Sail Tidore. Hitam di langit. Cahaya di jalan-jalan redup saat gerimis turun. Berlahan dan tidak berpindah sedikitpun peserta diskusi dengan tema “Menuju Sail Tidore 2021, […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!