Percikan Pemikiran Tentang Tuhan Tidak Perlu Dibela

Oleh: Mansyur Armain

 

Membaca tiga pemikiran yakni Nurkhaolish Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syaf’i Ma’arif, kesemuanya adalah lulusan dari Univeritas Chicago dan merekalah yang mewakili angkatan pertama, muncul di generasi kedua.

Abdurahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur, baginya percikan pemikiran mereka tidak menampilkan citra yang sama. Ketiga dari merekalah para alumni Universitas McGill di Montreal, Kanada. Dan mereka menjadi “agen pencerahan” yang bersikap serba-terbuka pada hal-hal baru, termasuk gagasan kerukunan antar umat beragama.

Dari buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, Gus Dur memakai Nurkholish Majdid sebagai pendekar dari Chicago, karena dia keterbukaan sikap yang ditunjukan peradaban Islam di puncak kejayaan, sekitar sepuluh abad lalu. Keterbukaan Islam yang membuat Islam mampu menyerap yang baik, dari manapun datangnya. Akan tetapi, bagi Gus Dur tidak terlepas dari Amien Rais dan Ahmad Syaf’i Ma’arif yang juga mempunyai kontribusi terhadap keislamannya selama berada di Universitas Chicago.

Sementara dalam pendekatan Kultural Nukholish Majdid itu sedikit berbenturan dengan padangan Amien Rais. Sebagai Wakil ketua PP Muhammadiyah itu terkenal dengan orientasi “cara hidup Islam” yang dibutuhkan di kampus-kampus selama ini. Nilia-nilai yang berpegang pada Islam dapat saja dikembangkan umat agama atau paham lain, namun sebagai sistem akan memiliki kekhasan sendiri.

Pandangan ini, mau dan tidak mau, kaum muslim harus lebih memperhatikan dunia politik sebagaimana melastarikan nilai-nilai dalam sebuah sistem sosial yang utuh. Hal yang sama, terdapat juga pada Ahmad Syaf’i Ma’arif yang tidak begitu risau dengan kekhasan islam sebagai sebuah sistem seperti yang dianggap oleh Amien Rais.

Pandangan Nurkholish Madjid lebih mengutamakan aspek kultural Islam. Sebagai organisasi, ia juga menekankan arti penting upaya memasuki pusat-pusat kekuasaan (power centers). Nurkholish Majdid mencoba mengembangkan islam sebagai “budaya bangsa” atau disemboyangkan sebagai Islam Yes, Politik Islam Yes (hal-3-4).

Gus Dur juga mengatakan bahwa, pemikiran Nurkholish Majdid tentang paradigma keislaman masih sangat jauh merospon dinamika keumatan dan kebangsaan sebagai nilai sosial. Oleh karena itu, Nurkholish Majdid selama empat tahun di Chicago. Belajar jadi jagoan ‘ngelmo’- dalam arti “pengetahuan yang dalam”, yaitu tentang hakikat Tuhan dan seterusnya, kerena filsafat memang bidangnya yang sedang didalaminya.

Ternyata Cak Nur (panggilan populernya) masih tampak sikap dan cara berpikirnya yang mempusatkan pada perhatian pada masalah-masalah dasar dalam pemikiran keagamaan, tidak begitu banyak tergoda oleh isu-isu sampingan.

Mungkin selera bacaan masih belum bervariasi dan belum tampak novel. Dari tingkat sastra dunai masih menghiasi lemari bukunya. Jadi masih berorientasi buku teks, sudah tentu dalam artian sumber bacaan, buku model berpikir. Akan tetapi musik sudah berubah. Tidak lagi puas dengan Indonesia Raya dan Himne HMI, sudah beranjak ke musik klasik – walaupun masih Greatest Hit yang diajukan The Reader’s Digest dengan harga reduksi.

Pada perkembagan terbesar justru terjadi dalam padangan ilmiahnya. Cakrawala perhatiannya jelas berubah secara total. Dahulu hanya berkisar pada ilmu-imu agama’kontemporer yang serba mentah, yang menguasai agama Islam’ di tanah air hingga kini. Cak Nur berubah jauh sekali: menukik sejarah pengetahuan dalam Islam secara tuntas. Menimbah khazanah filsafat, teologi dan hukum-hukum agama yang begitu kaya dengan literatur (hal 52).

Para pemikir muslim lainnya tidak ketakutan pada ideology-ideologi yang bersumber pada filsafat besar-besar (seperti marxisme yang berlandasakan dialektis yang bercorak metarialistis-deterministis). Mungkin Cak Nur tetap di permukaan, namun ia berubah secara mendasar di dalam. Tetap terbuka dengan jujur pada pandangan-pandangan dalam menggunakan istiah-istilah tentang sekularisasi.

Pemikiran Tuhan Tidak Perlu Dibela
Yang dimaksud sarjana X yaitu, Gus Dur yang baru menamatkan studinya di luar Negeri dan pulang ke tanah air. Dalam pemikiran tentang Tuhan Tidak Perlu dibela, bahwa di sana tak satu media massa Islam mampu mencapainya. Jadi pantas Gus Dur terkejut dan kembali ke tanah air. Dimana Gus Dur berada selalu dilihatnya adalah ekspresi kemarahan tentang orang muslim. Kerena dalam khotbah jumat yang pernah didengarnya seminggu sekali juga dalam majalah islam dan pidato para mubalig dan da’i.

Ketika Gus Dur mengikuti sebuah lokakarya ia bungun, lantaran dalam uraian seorang Ilmuan eksata tingkat top, telah menok wawasan ilmiah yang diikuti oleh para mayoritas para ilmuan seluruh dunia. Bagi Gus Dur, bukan penampilan alternatif sendiri yang merisaukan, melainkan juga pada wawasan pengetahuan modern yang terasan di sana belum jalas benar apa batasnya bagai para ilmuan yang hendak berbicara itu (hal 65).

Menurut Gus Dur rimbah kemarahan kaum muslim, dilihat dari wilayah persengketahannya bahwa wawasan ideal kaum muslim harus dituntut mengalami modernisasi. Sebagai aktivis organisasi Islam Gus Dur tidak mau tunduk pada keharusan untuk menempatkan ‘merek Islam’ pada kedudukan yang tertinggi atas semua aspek kehidupan.

Walaupun dengan gelar Doktor dalam salah satu cabang ilmu-ilmu disiplin sosial, Gus Dur, masih dihadapkan pada kepusingan yang memberikan penilian atas keadaan tersebut. Dengan demikian bahwa ia masih mampu menerangkan dari sudut pandangan ilmiah, namun Gus Dur tidak mampu menjawab bagaiamana kaum muslin sendiri menyelesaikan masalah itu.

Oleh karenya, Gus Dur diputuskan untuk pulang kampung asal, untuk menemui pamannya yang menjadi kiai di pasantren. Ketika dikampung, Gus Dur dikatakan jagoan ilmu fuqh disegani karena pengakuan ulama lain atas ketetapan keputusan agama yang dikeluarkannya. Pamannya juga, merupakan perwujudan dari kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.

Pemahaman Gus Dur, belum mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, untuk mengikuti keberangan tersebut. Gus Dur diajak menemui seorang tarekat. Dan distulah ia memperoleh kepuasan, jawabannya sederhana saja “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesarannya. Ia besar karena ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Pada perkembangan ini, islam akan tetap berkembang karena kebesaran Allah tidak berkurang sedikitpun dengan adanya keraguan-keraguan tentang orang itu. Meski ia tentram, Tuhan tidak perlu dibela, walau tidak dibela maka yang terjadi adalah kehidupan dan perkembangan ke depan tidak dipresepsi sebagai runtuhnya peradaban. Tetapi tidak atau dibela Tuhan lebih pada tunggal seseorang, untuk memahami eksistensinya bila terdapat keraguan dalam dirinya.(***)

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Coklit Serentak, KPUD Haltim Sudah Datangi 8.430 Pemilih

Sab Jul 18 , 2020
Oleh: Mansyur Armain   Membaca tiga pemikiran yakni Nurkhaolish Madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syaf’i Ma’arif, kesemuanya adalah lulusan dari Univeritas Chicago dan merekalah yang mewakili angkatan pertama, muncul di generasi kedua. Abdurahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur, baginya percikan pemikiran mereka tidak menampilkan citra yang sama. Ketiga […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!