PENDIDIKAN MAKANAN KAPITALIS

Oleh : Zulkifli Sugiarto
(Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Unkhair Ternate)

Bacaan Lainnya

 

Sejatinya, pendidikan itu adalah proses untuk mengembalikan manusia pada konsep fitrahnya. Pendidikan adalah proses untuk “Memanusiakan manusia”(Humanisme). Yaitu mengembalikan prinsip manusia yang berda dalam jeritan krisis sosial akibat dominasi peran dari beberapa pelaku sosial yang ada.

Kini, pendidikan menjadi lahan bisnis para Kapitalis dengan cara mengubah pola pendidikan, tanpa kita sadari bahwa pendidikan diperhadapkan dengan cara pemasaran produk intelektual yang siap disantap para pemodal, namun justru kita melibatkan diri dalam setiap proses pendidikan yang begitu menghawatirkan.

Sebab proses pembelajaran di sekolah maupun di Kampus, kita akan didongengkan dengan sistem informasi pasar kita, untuk dituntut berkerja tanpa harus bertanggungjawab atas pencapaian tujuan pendidikan sebagai mana fitrah pendidikan, mana yang dikatakan oleh Paulo Freire; bawa proses pendidikan adalah pembebasan manusia dari keterbukaan nasib serta belengguan kebebasan akibat otoritas kekuasaan.

Freire memerangi beberapa sifat dari pembebasan (liberation) tersebut yakni; kritis, optimisme dan resistensi. Ini menjadi sandaran sebagai kita ketahui bahwa pendidikan bukan hanya sebatas ajang indoktrinasi ideologi Kapitalis untuk bisa mendapatkan pekerjaan saat selesai dari kampus, tapi juga kita dituntut untuk memperjuangkan kepentingan umum dan kenyamanan bersamaan sebagai manusia.

Pendidikan hadir dengan wajah baru yang lebih mementingkan kualitas seseorang dari pasar. Mengapa? Hal itu sangat wajar, kalau kita kaitkan dengan realitas kehidupan sekarang dalam dunia pendidikan dengan meningkat kualitasnya, tetapi semua itu hanya bagi para kapitalis dengan tujuan merubah tampilan Kurikulum pendidikan yang berbalut sistim pasar sebagai lahan bisnis. Misalnya; Sekolah menawarkan jurusan-jurusan unggulan itu lahir dari kebutuhan pasar.

Yang dimaksudkan adalah tawaran jurusan ini karena ada kebutuhan pasar yang siap membeli tenaganya, maka tanpa kita sadari kapitalis memanfaatkan itu sebagai objek bisnis. Bahwa semua menyadari persoalan pendidikan dari dasar sampai ke atasnya, Pendidikan dari paradigma interupsi pembudakan cara pikir yang dilibatkan peran penting pendidik, testimoni dari pendidikan untuk upaya menciptakan generasi-generasi yang siap akan kebutuhan pasar, hal ini sangat menghawatirkan bagi nasib pendidikan kedepannya.

Gejala komersial yang melanda kampus-kampus kita dewasa ini tidak berdiri sendiri. Ia hanya merupakan rangkaian dari suatu sistem besar, baik ideologi, politik, ekonomi, maupun budaya yang melihat masyarakat kita.

Pertama, secara ideologi makin kuatnya cengkraman ideologi kapitalis yang melanda Indonesia. Hal ini sebagai hasil dari masuknya investasi asing yang secara resmi dibuka sejak tahun 1967 dengan dikeluarkannya Undang-undang tentang investasi asing. Dampak dari masuknya investasi asing itu adalah munculnya industri-industri manufaktur mampu jasa yang memerlukan pasar baru.

Pasar secara konvensional belum tumbuh secara baik. Kalau tumbuh sangat lambat karena pola hidup konsumtif pada waktu yang belum dikenal. Industri telivisi konsumtif belum terburuk. Berdasarkan analisis pasar semacam itu maka kampus kemudian dijadikan pasang pasang yang paling potensial.

Kedua, secara politik penguasa Orde baru bermaksud ingin menghapus kesan bahwa kampus itu mahal, tapi secara ekonomi tidak memberikan topangan dana yang cukup, sehingga kampus dapat berkembang secara leluasa tanpa mengalami hambat dana.

Ketiga, secara budaya bersama dengan makin kuatnya cengkraman ideologi kapitalis, di masyarakat mulai muncul nilai baru tentang keberhasilannya, budaya materialistis mulai menguasai pendidikan, sehingga kampus mengukur keberhasilan seseorang pun dilihat secara materialistik.

Diferensiasi pendidikan berunjuk pada hal-hal tidak lagi berfungsi pada subjek dan objek perubahan sosial hal ini dikarenakan pendidikan yang muncul bukan lagi mengubah tantan sosial atau upaya menciptakan suasana masyarakat yang adil dan makmur, kini pendidikan mengubah tantan sosial yang diganti dengan bisnis yang siap kerja tampa harus memukul peran dan fungsi sebagai fitrah manusia yang memanusiakan manusia tanpa harus menjual atau mengadaikan ilmu pengetahuan sebagai praktik para kapitalis di dunia pendidikan.

Dengan membangun pemahaman positif tentang manusia sebagai makhluk yang secara ilmiah memiliki potensi-potensi, ia kemudian mencoba menganalisis setiap personal sosial dari sudut pandang ini. Upaya menciptakan generasi-generasi yang lebih progresif upaya menciptakan pendidikan pada fitrahnya sebagai Perubahan. Namun, pada praktik pendidikan disalahkan gunakan rezim penguasa.

Pendidikan menjadi ajang indoktrinasi ideologi rezim. Akibatnya orientasi pendidikan tidak lagi mengarah pada pembebasan dan kecerdasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini merupakan refleksi atas berbagai macam persoalan yang dihadapi pendidikan kita. Mengambil inspirasi Paulo Freire menyangkut sistem pendidikan, mulai dari soal kurikulum yang beruban-ubah, masuknya praktik bisnis ke dunia pendidikan.(***)

Pos terkait