Kembali ke Gam Laha


Oleh: Almansyurfolila

 

Saat mendung tiba, nurani birbicara tentang kemanusian, kepentingan, kemerdekaan, serta kekeluargaan. Sekalian mengantarkan kemandirian terus beranjak pergi menentukan langkah. “Ada sesuatu yang lama, dalam catatan harian masyarakat sebelum pindah kampung. Gam Laha (kampung yang baik), rumah-rumah berjejer. Sebagian masyarakat adalah bertani. Ada kehangatan, komitmen, kebersamaan, dan sunyi yang terkubur sekian tahun”. Ia, itulah yang membuat saya menulusuri jejak langkah di tengah pendemi Virus Corona.

Kampung dengan sejuta rempah, hijaunya daun, menambah kesejukan tersendiri. Seperti kampung tua di tengah hutan. Saya pertama menginjak kaki di Gam Laha, tidak sekedar mencermati suasana dan keramaian di tengah hutan, namun membawa saya beriteraksi bersama warga Gam Laha. Bukan hanya sendiri, tetapi saya bersama ko Redys, senior saya untuk bertemu dalam ikatan kekeluarkan yang luar biasa.

Mesi begitu, dalam kesedaran saya, hampir rasanya saya sangat kagum tentang tantangan di setiap wabah. Kebanyakan orang dalam membangun kemandirian, bukan terletak seberapa besarnya harta yang melimpah, bahwa alam adalah tempat terakhir berpijak menghadirkan beribu kebutuhan pokok, bukan keinginan. Dari sini, transformasi alam diterima dari kelaparan menjadi kenyang. Perang demi melawan pendimik ini, yang bisa dilakukan adalah kembali kepada kampung asal, dimana warga Gam Laha hidup tanpa menangis lapar dan alpa karena riwayat virus menimpah mereka.

Menurut Kinau Miradji, Gam Laha dalam catatan tahun 1975, seorang warga Rum Kahar Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan, ketika saya mendatangi kampungnya di sebuah hutan yang jauh, kira-kira sekitar 2 kg 800 meter dari kampung Rum Kahar. Jalan itu, dibangun di masa kepemimpinan Achmad Mahifa. Sebab kampung Rum Kahar, dahulunya adalah kampung Gam Laha yang berpindah karena belum ada akses jalan.

“Jadi waktu di jaman Pak Mahifa, jalan menuju di kampung Gam Laha, di bangun bertahap. Itu pun warga dari Rum Kahar juga membantu, karena jalan masih gusur mereka melakukan swadaya untuk menuruskan jalan sampai selesai,” cerita pak Kinau saat ditemui di kampung Gam Laha, Sabtu (6/6/2020).

Di persampingan jalan, aroma rempah tercium. Ibu-ibu sedang menanam jagung. Rumah-rumah warga mulai di bangun. Dinding rumah sebagian menggunakan papan, beton, tetapi beratap seng. Kata pak Kinau, “torang punya rumah ini, dibangun di pertengahan Ramadan, sedangkan yang lain di bangun pask lebaran idul fitri”. Dan rata-rata rumah sudah dibangun berkisar 25, dan belum dibangun sekitar 15 rumah yang sementara masih tahap pondasi. Kalau dihitung, bangun rumah keluarkan uang sekitar 5 jutaan lebih. Sebab satu sisi, mendengar cerita yang tidak jelas di kampung, lebih baik kembali ke kampung yang dulu, sekaligus dengan karantina mandiri.

Langit mulai gelap. Sunyi mulai terasa. Suara angin pelan-pelan terdengar dari ujung kampung. Tidak sangka, gerimis turun. Warga mulai pulang dari kebun. Yang lain masih sementara sibuk memperbaiki atap rumah. Anak-anak lalu lalang sambil bermain di bawah pohon cenkeh. Ibu-ibu menghabiskan keringat menanam sayur-sayuran, dan sebagian membersihkan rumput yang di pinggir rumah.

Dari kampung rempah, saya menanyakan kepada pak Kinau, kami yang membuat rumah di kampung Gam Laha, bukan berpindah kampung, tetapi sekedar kembali melihat harta warisan yang sudah lama tidak terurus, seperti cengkeh dan pala.

“Kami tinggal disini, tidak punya rencana melakukan pemekaran RT. Itupun kalau rumah sudah banyak dan ramai, berarti torang harus pindah. Kebanyakan petani di kampung Gam Laha, bertani dan membuka lahan baru untuk menanam kembali sayur-sayuran. Dikarenakan cengkeh dan pala sudah besar,” kata Kinau sembari memberi keterangan kepada saya.

Selain itu, pak Kinau menunjukan bekas fondasi rumah yang dulu kepada saya. Ketika dilihat, ternyata benar, bahwa fondasi rumah Rum Kahar masih ada, walaupun sebagiannya sudah hancur. Itu bertanda kampungnya ada waktu itu.

“Yang biking torang biking rumah disini, karena torang di kampung Rum Kahar, sudah bosan mendengar cerita wabah penyakit virus corona yang kapan bisa selesai,” ungkapnya.

Dari wajah kampung tua itu, mengundang sejumlah warga Rum Kahar berbondong-bondong membangun rumah. Selain cengkeh dan pala, pohon durian jadikan sebagai mata pencaharian disaat panen tiba. Namun sampai sejauh ini, warga di kampung Gam Laha tidak memakai listrik. Nyala pelita di saat malam mempunyai kekuatan dan nilai tersendiri, mengingat kembali waktu orang-orang keluar dari kampung Gam Laha.

Cerita terus berlanjut hingga kampung Gam Laha tertutup awan, gelap terlihat sangat mencekam. Tidak bersuara, selain tetesan hujan dan pelita yang saya rasakan. Di dalam rumah, saya duduk berteman pak Kinau dan istri serta anaknya. Istri pak Kinau, menggoreng pisang, dan menyediakan kopi untuk saya. Nyala api dan pelita, timbul di hati kecil saya, seperti ada kekeluargaan yang terbangun saat mengenal pak Kinau dan keluarganya.

Sebelum pulang, pak Kinau mengatakan kepada saya, bahwa ia akan punya rencana akan berusaha untuk memasukan listrik di kampung Gam Laha. Bahwa, tidak tahu ke depan, karena masa depan anak-anak mereka bisa tumbuh dan besarkan di kampung disini. Apabila wabah penyakit virus corona tidak selesai.[***]

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Haltim Zona Hijau Covid-19, Pemeriksaan SIKM Tetap Berlaku

Sen Jun 8 , 2020
Oleh: Almansyurfolila   Saat mendung tiba, nurani birbicara tentang kemanusian, kepentingan, kemerdekaan, serta kekeluargaan. Sekalian mengantarkan kemandirian terus beranjak pergi menentukan langkah. “Ada sesuatu yang lama, dalam catatan harian masyarakat sebelum pindah kampung. Gam Laha (kampung yang baik), rumah-rumah berjejer. Sebagian masyarakat adalah bertani. Ada kehangatan, komitmen, kebersamaan, dan sunyi […]

BERITA LAINNYA

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!