Selasa, Oktober 26, 2021
Home > EDUKASI > MENGINGINKAN PERUBAHAN TAPI TAK MAU DIUBAH!

MENGINGINKAN PERUBAHAN TAPI TAK MAU DIUBAH!

Oleh: Siti Nurhilda

(Mahasiswa IAIN Ternate)

 

Indonesia dilanda wabah virus corona (Covid-19). Kasus positif virus corona di Indonesia tercatat pada Sabtu, 3 Mei 2020 sebanyak 11.192 kasus, sedangkan pasien yang sembuh sebanyak 1.876 orang dan meninggal 845 orang. Penyebaran wabah virus ini begitu cepat sehingga berpengaruh besar pada perekonomian di Indonesia.

Direktur Riset Center Of Reform On Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 dibawah 5 persen (Merdeka.com). Dan apa yang diprediksikan terlihat nyata setelah terjadinya penyebaran virus corona pada bulan Januari lalu, Pemerintah telah mengambil kebijakan namun, dampaknya belum tersignifikan. Malah kebijakan pemerintah dinilai lebih pada penahanan perlambatan ekonomi.

Respon dari pemerintah dalam melakukan upaya pencegahan yakni penutupan sekolah, Work From Home khusus pekerja sektor formal, berlakunya social distancing, penundaan dan pembatalan berbagai event-event membuat roda perputaran ekonomi melambat. Disini, jelas kita memerlukan tokoh perubahan yang tidak hanya bersuara di depan mikrofon atau didepan media. Tapi harus ada bentuk nyata dalam menghadapi problem yang tengah dihadapi.

Kita tahu betul banyak ekonom pintar di Indonesia. Namun, untuk memimpin ekonomi Indonesia tidak sekedar orang yang pintar. Tapi harus jujur, bersih, dapat dipercaya, berpikir jauh kedepan dan responsif dalam melakukan perubahan. Jangan sampai mereka mengalami kondisi Lingsem (jawa), yakni kondisi psikologi yang tidak lagi mempertahankan sesuatu secara objektivitas tetapi cenderung pada persoalan harga diri.

Jika pada kondisi lingsem ini orientasinya para pelaku konflik tidak lagi merunjuk pada persoalan penyelesaian masalah, tetapi cenderung pada rasa ingin menang atau tidak mau kalah. Jika itu adalah ukurannya maka peluang yang tersedia adalah tampilnya kekuasaan. Lalu, apakah ekonomi Indonesia diurus oleh orang ekonom yang menanti apa yang diinginkan politisi ataukah seorang politisi yang berpura-pura menjadi seorang ekonom ?
Berbicara tentang upaya pemerintah dalam pencegahan penyebaran virus corona.

Baru-baru ini dikabarkan sekitar 500 TKA Cina yang masuk ke Sulawesi Tenggara. Padahal kita tau bahwa pemerintah sedang menutup akses keluar masuk di Indonesia. Bukan hanya itu kita di himbau untuk tetap di rumah dan menghalau untuk tidak mudik atau pulang kampung. Bagaimana bisa pemerintah menghalau warganya untuk melakukan hal demikian lalu mengapa TKA Cina yang berkisar 500 orang bisa diberi ijin untuk masuk ke Indonesia ? bukan hanya itu, desa kawasi, Kec. Obi, Kab. Halsel – Maluku Utara Kedatangan 46 TKA Cina di tengah wabah virus corona.

Apakah ini keteledoran dari pemerintah sendiri yang memperketat aturan yang ada untuk warganya dan memberi kelonggaran kepada investor asing yang menembus himbauan pemerintah itu sendiri ?

Bukan apa-apa. Tapi justru di tengah pandemik covid-19 ini berdampak pada sejumlah pekerja. Tercatat sekitar 1,9 juta pekerja di PHK dan dirumahkan akibat pandemik virus corona. Dan kita tidak dapat pungkiri bahwa akan ada peningkatan pengangguran yang akan terjadi.

Mari menegok sebentar pada aspek pendidikan kita di Indonesia saat ini. Karena Indonesia sedang di landa covid-19. Maka dari kementerian pendidikan dan budaya pun mengeluarkan kebijakan antara lain, sistem pembelajaran jarak jauh dengan jaringan teknologi internet atau yang kita kenal sistem daring. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi memanfaatkan beberapa aplikasi untuk belajar jarak jauh seperti Whatsapp Group, Zoom Cloud Meeting, Google Classroom, Google Form dan e-mail.

Yang jadi persoalannya, bagaimana dengan siswa atau mahasiswa yang kebutuhan dalam belajar terbatas. Misalnya tidak memiliki alat teknologi yang mumpuni untuk keikutsertaan belajar pada sistem daring tersebut. Kemudian bagaimana jika tempat mereka tidak ada akses internetnya ?

Jangankan soal itu, kebutuhan pangan pun mereka sulit untuk memenuhi ditengah pandemik wabah virus corona dan kebijakan pemerintah yaitu stay at home. Bukankah pemerintah punya peran penting dalam menyikapi persoalan tersebut ?

Dengan kondisi demikian, perlu adanya pemerintah untuk mengembangkan kurikulum baru yang sesuai dengan tantangan pembelajaran di tengah pandemik covid 19 ini yang belum tahu pasti kapan berakhirnya. Seperti diutarakan oleh Indra Charismiadji (seorang tokoh pendidikan Indonesia) bahwa pada era industri 4.0 ini kebutuhan akan para invator dan reaktor menjadi kebutuhan utama. Salah satunya disesuaikan menjadi pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).

Sebagai harapan besar Pemerintah Maluku Utara, lebih jauh memberikan solutif terbaik atas masalah-masalah yang terjadi. Jika rakyatmu menyuarakan aspirasi, tolong didengar. Karena kalian menduduki kursi Pemerintahan berasal dari suara rakyat. Yang harus dipenuhi adalah kesejateraan rakyatmu, bukan kantongmu. Ingat, Indonesia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jangan terlalu mengurusi hal yang bukan prioritas saat ini.

Kritik tak saja menimbulkan konflik atau emosi tetapi juga ada ide-ide baru. Memang perubahan menuai banyak kritikan dan kegaduhan. Seperti di katakan Renald Kasali, “Perubahan belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik, tetapi tanpa perubahan tak ada kemajuan, tak ada pembaharuan”.[***]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!