KOTA XI’JIA

Oleh: Ardiansyah Fauzi (Novelis)

 

Disuatu masa di tahun 810 Masehi, ada sebuah kota kaya raya di laut andriatik dengan institusi ekonomi inklusif tercanggih kala itu. Dan satu satunya kota yang bisa menandingi kekayaan kota itu adalah kota Xi’jia.

Pada abad ke-7 periode dinasti T’ang. Xi’jia (Cengkih) dibawah pelaut China keluar dari kotanya jauh dari ‘the silk road’ melalui darat dan laut menelusuri gurun Gobi, lembah Khayber Pass, Nepal hingga masuk ke daratan Eropa Venice dan Mesir Alexandiria. Venice kala itu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Mediterania.

Dalam banyak catatan, laporan dan penggalian artefak di lembah Eufrat hingga Babilonia, ditemukan artefak cengkih dari Maluku pada era Mesopotamia lama. Ini membuktikan cengkih telah sampai di Mesopotamia pada 3000 SM. Catatan tertua adalah yang ditulis oleh Brierley ; Queen of Sheba brought precius stones, golf and spices to Solomon in 992 BC, and 3000 pounds of pepper. Sementara dari laporan lain menyebut, Cengkih telah gunakan sebelum masa Yesus Kristus. Laporan para biarawan Fransiscan dikutip dari Ch. Van Frassen, bahwa cengkih telah digunakan oleh bangsa Mesir untuk mummi raja raja mereka. (Dr Syaiful Bahri Ruray -Sebuah Ontologi dari Negeri Rempah).

Berabad-abad setelahnya, bangsa Iberia yang katanya lebih dulu tercerahkan dibandingkan bangsa Melanesia percaya bahwa ada satu tumbuhan yang begitu berkhasiat dan sangat berharga bagi penduduk bumi hanya tumbuh di bulan, mitos ini membawah Christopher Colombus dengan El Pinto nya yang kesohor tersesat di samudera, disebuah daratan ia merasa bertemu dengan orang-orang Indien Insula (Maluku), tak ada tumbuhan dari bulan yang mereka dapatkan, Colombus berkilah mereka datang salah musim karenanya hanya membawa pulang emas, budak Karibia dan burung kakatua. Karena tanah itu bukan milik Ilhas das Moluccas tapi benua Amerika.

Setahun kemudian, masih dengan semangat memecahkan mitos tumbuhan dari bulan, pada 25 september 1993, Hernan Cortez memulai penjelajahan kembali. Dengan modal tujuh belas armada mereka tersesat lebih jauh lagi, masuk ke pedalaman Kuba, heroiknya meski salah jalur Cortez dan armadanya sanggup menaklukan suku Aztech. Seperti alasan pendahulunya, belum musim panen, sehingga yang bisa dibawah pulang untuk Raja Spanyol hanyalah tembakau, jagung, tomat, kentang, biji cokelat serta emas Montezuma. Sekali lagi pelayar-pelayar itu gagal menemukan the spice islands.

Mitos cengkih kian mahal dan semakin diburu ketika sekitar pertengahan abad ke 13, terjadi peristiwa the black death (maut hitam), wabah penyakit Pes yang membunuh hampir 50 juta penduduk Eropa. Dan menurut keyakinan orang-orang hanya cengkih yang bisa mengusir wabah paling mematikan tersebut.

1 gram cengkih di masa itu lebih mahal daripada 1 gram emas. 1 kilogram cengkeh setara dengan 7 kilogram emas. (Baca-Pengelililng bumi pertama adalah orang Indonesia. Enrique Maluku).

Perburuan rempah-rempah membuat Maluku jadi tempat persentuhan dengan banyak bangsa serta peradabannya, kemudian berkembang menjadi kosmopolitan abad pertengahan. Bangsawan Jerman Baron Ferdinand von Richthoven menyebut tanah jalur rempah ini sebagai ‘Seiden Strasse’ jalan sutra. Menurut peneliti maritim kenamaan AB. Lapian, bahwa jalur sutra (the silk road) sesungguhnya adalah the spices road (jalur rempah-rempah), Metafor sutra dipakai untuk mengambarkan kehalusan persentuhan peradaban dan jalinan persahabatan bangsa-bangsa yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.

Kota Xi’jia adalah pusat dunia saat itu, pertaruhan bangsa-bangsa maritim yang besar terjadi disini, sehingga dibuat perjanjian Saragosa (1529) akibat Portugis protes karena kedatangan Spanyol di Tidore dianggap mengganggu monopoli rempah Portugis di Ternate (1512) dan merusak perjanjian Tordesillas yang telah ditetapkan oleh Paus di Vatican sebelumnya. Adanya perjanjian Saragosa merupakan cikal bakal lahirnya konsep awal hukum laut internasional, selain itu terjadi pula pertarungan konseptual ‘battel of the book’ antara si jenius Hugo Grotius yang membela kepetingan Belanda (1588), melawan John Sheldon yang mewakili kepetingan Inggris (1579). Persentuhan dua kekuatan dunia di kota Xi’jia tersebut juga merubah mindset bahwa bumi itu bulat bukan datar yang sebagaimana telah terlanjur dipercayai oleh ummat manusia.

Seperti kedatangan Mas Goenawan Mohamad dan Salihara membawa Den Kisot pulang ke rumah keduanya Tidore dan Ternate setelah 400 tahun lebih tersesat mencari jalan. Ada sejarah besar ada nilai yang diusung sebagai upaya merawat memori kolektif kita sebagai bangsa dari sebuah peristiwa dimasa paling lalu.

Begitu juga kisah kedatangan ekspedisi dunia terbesar dan termahal Fernando Magelhaens, melibatkan 5 armada diantaranya kapal Santiago, kapal Concepcion, San Antonio, Trinidad dan kapal Victoria, dengan melibatkan kurang lebih 233 anak buah kapal dari berbagai bangsa. Armada Armada Magelhaens bertolak dari pelabuhan Sevilla Spanyol pada september 1519. Dibawah perintah raja Spanyol king Charles I. Perjalanan Magelhaens awalnya menuju barat karena dunia telah terbagi dua sesuai perjanjian Tordesillas (1494).

Dengan dua kapal tersisa Trinidad dan Victoria dengan 19 awak, Sebastian del Elcano penerus Magelhaens yang tewas di tangan raja Humabon pada April tahun 1521 dalam konflik lokal di Mactan, Kepulauan Filiphina, memasuki masa 500 tahun kembali ke Kota Xi’jia di tahun 2021 nanti.

Ekspedisi ini bukan hanya besar dan mahal, tapi juga merupakan ekspedisi dengan jurnal perjalanan terbaik pertama yang pernah ada. Adalah Antonio Pigafeta seorang etnolog Italia yang menuliskannya secara detail.

Tentang Kota Xi’jia, Pigafeta mencatat; 3 jam sebelum matahari terbenam pada 6 november 1521, Trinidad dan Victoria membuang sauk di pantai Rum, Tidore. Dua hari kemudian mereka disambut hangat oleh Kolano Tidore Al-Manshoor, seorang Sultan yang gagah tegap bertampang Moor, berusia 55 tahun dengan dua kora kora kehormatannya. Trinidad dan Victoria pun menyambut Al-Manshoor dengan tembakan salvo penghormatan penuh dari seluruh meriam kapal yang ada.

Juan Sebastian del Elcano menggelar karpet merah di atas geladak kapal, kemudian memberi komando pada seluruh awak kapal untuk berbaris membentuk pagar betis lalu mencium tangan Sultan sebagai bentuk penghormatan tertinggi mereka terhadap kepala negara sahabat. Seluruh perwira dan awak kapal diizinkan turun ke darat, dan menurut Sultan, “Seluruh Tidore harus dianggap sebagai rumah kalian sendiri.” Nakoda kapal kemudian menyerahkan sejumlah hadiah: sebuah jubah, kursi Eropa, kain linen halus, sutra brokat, beberapa potong kain India yang dibordir dengan emas dan perak, berbagai rantai kalung dan manik-manik, tiga cermin besar, cangkir minum, sejumlah gunting, sisir, pisau serta berbagai benda berharga lainnya…., Dua hari setelah kedatangan armada Spanyol, Al-Manshoor mengundang mereka ke istana di Mareku untuk suatu jamuan makan siang.

Dalam pembicaraan dengan Sebastian del Elcano, Sultan mengizinkan mereka menggelar dagangannya di pasar. Sultan membantu membuatkan tempat berjualan dari bambu dan atap, sehingga terjadilah perdagangan tukar-menukar. Sepotong kain merah ditukar dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong dengan dua bokor cengkih. Dengan cepat seluruh cengkih di Tidore ludes, sehingga harus dicari di tempat lain seperti di Moti, Makian, dan Bacan ….” (M Adnan Amal 2016).

Ekspedisi mewah dan mahal itu akhirnya kembali ke tanah Spanyol hanya tersisa satu armada Victoria, memuat sekitar 26 ton rempah-rempah dan itu cukup untuk menutup seluruh biaya yang dikeluarkan oleh raja Charles untuk penjelajahan terpenting dalam sejarah dunia tersebut.

Kota Xi’jia adalah kota kecil yang tetap terus besar karena kemasyuran sejarahnya.

Adalah seorang pahlawan Nasional Afrika Selatan asal Tidore yang akan terus merawat kebesarannya. seorang buangan politik yang menolak tunduk pada Belanda (1780-1784), pangeran dari Tidore Tuan Guru Imam Abdullah ibnu Qadi Abdussalam, pendiri Madrasah pertama di Afrika Selatan. Nelson Mandela dalam pidatonya, berterimakasih pada Tuan Guru dari Tidore, sebagai orang pertama yang memperkenalkan pendidikan formal bagi masyarakat Afsel, bagi Mandela ini artinya penting sekali, tanpa pendidikan bangsa Afrika ini tidak akan memperoleh arti kemerdekaannya.

Adalah Jou Barakati Sultan Nuku yang akan terus menjaga kemasyurannya, seorang tokoh maritim terbesar yang terkenal dengan gerilya lautnya selama 22 tahun lebih melawan Belanda, pertempuran hebat dan begitu lama melebihi peperangan Napoleon di Eropa.

Alm Muridan Widjodjo penulis buku Pemberontakan Nuku, mengatakan; Bahwa Pangeran Nuku adalah salah satu dari sejumlah individu langka yang bermunculan dalam sejarah Asia Tenggara yang diwarnai oleh spritualisme tertentu, aura yang dikenali oleh rakyat dan karenanya diikuti. Pangeran Nuku tidak pernah berhenti mengatakan bahwa Belanda adalah musuh satu satunya. Yang membedakan Pangeran Nuku dari semua pahlawan besar dan kecil adalah ia memandang ke luar batasan dunia sosial dan politiknya sendiri dan dengan melakukannya, ia berupaya mencari sekutu untuk melawan Belanda yang dominan yaitu  EIC Inggris. Berlawanan dengan para pemberontak lainnya, Pangeran Nuku memahami bahwa ia hidup di dunia yang sedang berubah. Ia tak mau melibatkan diri dalam strategi dan skenario-skenario mistis yang membuat dirinya kalah.

Fakta gerilya selama 22 tahun lebih, Pangeran Nuku sebagai pemberontak tak sekali pun bisa dikalahkan atau pun ditangkap. Cita-cita yang memotivasi pemberontakan panjangnya benar-benar terlihat dalam klausul-klausul rancangan traktat yang diajukan kepada orang Inggris dan Belanda. Ia memperjuangkan kemerdekaan Tidore secara politik dari Belanda dan Inggris. Dalam masa kehidupannya, Nuku dikenal sebagai Jou Barakati ‘Dewa Fortuna’.

Kapten Lennon mengomandai salah satu kapal Inggris di bawah komando laksamana Rainer di Ambon pada tahun 1796 memberi kesaksian; Nookoo (Nuku) menurut yang saya dengar, adalah karakter yang jauh lebih tercerahkan daripada mayoritas orang Melayu. Memiliki rasa humor dan kebenaran paling baik. Dalrymple menggambarkan Nuku sebagai pribadi dengan sifat yang aktif, berani dan diberkahi dengan kemampuan bela diri khusus. Ia setia dan adil kepada istrinya, tak seperti kebanyakan raja raja Nusantara, Nuku tidak memiliki selir, dihadapan rakyatnya Nuku adalah pribadi yang tegas namun bijaksana.

Catatan pelaut Inggris Thomas Crotty yang diselamatkan Nuku pada 1783, yang Mulia Nuku melakukan pertemuan publiknya dalam istana raja (di Waru) baik siang maupun malam, jika ada apapun yang penting harus diselesaikan. Beliau memberikan keadilan bagi semua orang; apakah ia orang kaya maupun orang miskin. Semua orang harus mengajukan kasusnya sendiri, tidak diperlukan adanya pengacara dan keputusan segera dikeluarkan.

Sultan Nuku mampu mengalahkan Belanda dalam permainan mereka sendiri. Ia sangat piawai menggunakan orang Inggris sama seperti pemerintah Soekarno menggunakan Amerika Serikat pada 1962 dan Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 1963.

Walaupun kaya Cengkih, Tidore yang kecil ini tidak akan bermakna secara politik jika saja tidak banyak pulau-pulau lain yang mengakui kekuasaannya sebagai sebuah kesultanan. Dan Pangeran Nuku sanggup membangun kekuatan Tidore dan mendapat pengakuan dari pulau pulau lain lewat persekutuan lintas budaya Maluku dan Papua (1780-1810), kunci paling sukses membuat Belanda bangkrut menghadapi pemberontakannya. Satu tokoh maritim dunia yang tak pernah sekali pun terkalahkan dalam pertempuran laut.

Dunia pasti mencatat itu dengan tinta emas, dan semoga Mas Goenawan Mohammad juga mau menarasikannya, dan Komunitas Salihara mau mementaskannya seperti Den Kisot yang pulang ke tanah yang tak pernah menjadi asing bagi bangsa-bangsa Iberia.[***]

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

322 Pengemudi Angkutan Umum di Tidore Terima Bantuan

Sen Mei 11 , 2020
Oleh: Ardiansyah Fauzi (Novelis)   Disuatu masa di tahun 810 Masehi, ada sebuah kota kaya raya di laut andriatik dengan institusi ekonomi inklusif tercanggih kala itu. Dan satu satunya kota yang bisa menandingi kekayaan kota itu adalah kota Xi’jia. Pada abad ke-7 periode dinasti T’ang. Xi’jia (Cengkih) dibawah pelaut China keluar […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!