Melihat Hilal di Masa Kesultanan

Oleh : Almansyurfolila

 

Hari itu gerimis. Langit hitam. Tanda hujan akan tiba. Meski gumpulan awan di gunung terlihat buruk. Sebentar lagi Tidore dan sekitarnya diguyur hujan.  Saya bersma Teguh sapaan akrabnya, bertemu dengan Jojau Kesultanan Tidore, Amin Faruk di kediamannya di Kelurahan Soasio, Rabu (23/4/2020), sehari sebelum Ramadhan tiba.

Di teras rumah. Meja panjang dan kursi tersusun rapi. Jojau Kesultanan Tidore, Amin Faruk keluar melangkah pelan dari kamar. Ia baru selesai istirahat siang. Di hadapan saya dan Teguh, ia  memulai bercerita. Awal Melihat hilal dari Toloa. Itu dimasa Kesultanan Sultan Saifuddin.

Doe lamo (sebuah tempat melihat hilal) dalam penyebutan orang orang Tidore. Toloa di masa Kesultanan, hilal atau disebut dengan jaga ora (menjaga bulan tiba) . Hal itu bertanda bahwa awal Ramadhan dan awal syahban telah tiba. “Jadi yang menjaga hilal, yaitu perwakilan dari satu orang khatib, atau paling kecil satu atau dua orang modim. Mereka adalah perwakilan-perwakilan dari mesjid di setiap kampung,”kata Amin.

Saya dan Teguh tetap menatap kalimat per kalimat dari Jojau, Amin Faruk. Kata Amin , bahwa fenomena alam di Toloa, akhirnya Pemerintah menetapkan Toloa sebagai titik dan tempat pemantauan hilal. Pengakuan Amin bahwa, untuk mengetahui awal Ramadhan, para modim memakai cara estafet. Caranya mereka berlari dari Dokiri, Tuguwiha, Tomalou, hingga di pusat Kesultanan.

“Berkaitan dengan hilal, saya ingat ada seorang mahasiswa yang meniliti tentang hilal versi Toloa dan Soasio,” ucap Amin.

Saya kembali bertanya, kalender apa yang dipakai di waktu Kesultanan. Kata Amin, kalender yang dipakai di waktu Kesultanan, yaitu kalander  bahasa arab. Tetapi mereka menyebutkan  “Kalender seumur hidup”.  Begitulah  para modim dapat menentukan awal Ramadhan.

Dengan rasa tanggungjawab dan kepedulian, para modim berjalan dari kampung ke kampung untuk memberi kabar, bahwa sudah waktunya berbuka pausa. Para modim juga, mereka membawa makanan berbuka puasa. Tapi makanan tersebut diantar dari tetangga.

Di luar gerimis masih turun. Masih turun.  Hitam bercampur putih. Saya dan Teguh masih dalam pertanyaan besar. Bertanya dan terus bertanya. Mengapa Ramadan kali ini, para imam dan modim di Toloa tidak lagi memantau keberadaan hilal. Pertanyaan ini, masih saja tersimpan. Sampai tak tahu mengapa. Entahlah.

Amin mencoba menjawab pertanyaan saya. “Alasan mengapa Toloa menjadi titik untuk melihat hilal. Hal itu, dikarenakan mereka melakukan uji coba di kampung lain. Ternyata tidak terlihat. Sementara untuk melihat hilal, para modim waktu itu, memakai ilmu falak untuk melihat hilal,” ungkapnya.

Ilmu falak, menurut Amin, bukan dipakai melihat hilal, tetapi juga dipakai untuk mengetahui kejadian alam, seperti gempah.

Amin jelaskan, di masa Kesultanan Sultan Saifuddin bertahta di Toloa, para modim melihat hilal punya tugas untuk mengabarkan kepada modim di sejumlah kampung. Waktu itu belum ada kelurahan. Mereka para modim memakai pakain gamis. Berlari hingga ke kampung Seli. Ketika sampai di Soasio, modim dan khatib di Soasio sudah menunggu dengan laporan suba. Hal itu, atas dasar musyawarah dan mufakat.

Amin Faruk pun bercerita. “Ia sempat terlibat dalam prosesi tersebut. Waktu itu, para modim turun dari tiap kampung. Sebab ia sempat menjadi modim. Untuk menjadi modim, terlebih dahulu mereka dididik, harus paham agama, mengaji, dan paham tentang keislaman. Namun sebelumnya, Sultan pernah mengumpulkan semua modim di tiap kampung. Dan itu sudah menjadi hukum adat. Lebih itu, pandangan masyarakat awam tentang hilal. “Dorang (mereka) gusumi anyor atau dalam bahasa Tidore “Gasumi ma bunga ruru”.

Amin juga bilang, diwaktu pembentukan Provinsi Maluku Utara belum ada yang ketahui tentang awal Ramadhan. Yang ada baru radio. Itu juga masih terbatas dalam menginformasikan Ramadan. Dari radiolah, bahwa ada informasi idul fitri di keesokan harinya. Padahal sebelum itu, zakat fitrah belum mendapat idin dari Kesultanan.

Sepertinya untuk di tahun ini, torang (kami) di Soasio dan beberapa mesjid sudah melaksanakan salat Tarawih. “Bahkan torang tahu bahwa 1 Ramadan jatuh  hari Kamis 24 April 2020,” tuturnya.[***]

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Akses Keluar-Masuk Kota Tidore Segera Ditutup

Ming Mei 3 , 2020
Oleh : Almansyurfolila   Hari itu gerimis. Langit hitam. Tanda hujan akan tiba. Meski gumpulan awan di gunung terlihat buruk. Sebentar lagi Tidore dan sekitarnya diguyur hujan.  Saya bersma Teguh sapaan akrabnya, bertemu dengan Jojau Kesultanan Tidore, Amin Faruk di kediamannya di Kelurahan Soasio, Rabu (23/4/2020), sehari sebelum Ramadhan tiba. […]

BERITA LAINNYA

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!