Rabu, Oktober 27, 2021
Home > EDUKASI > Dari Puisi ke Esai

Dari Puisi ke Esai

Oleh: Almansyur Armain

Puisi esai dari setiap tahun ke tahun mengalami struktur penulisan yang berbeda. Hal itu ketika, puisi esai dilihat dari sudut pandangan dari penulis-penulis puisi, esai maupun seorang sastrawan sekalipun. Seorang penulis puisi, esai atau pun sastrawan merupakan sama-sama menafsirkan puisi esai yang berbeda ke dalam penulisan, sebagaimana Denny JA (2012), puisi esai dalam pandangang umum memiliki tema yang akurat, penokohan, alur, latar, catatan kaki, dan bahasa.

Pandangan Denny di atas, sekurangnya memberikan pemahaman kita tentang pusi ke esai yang bersifat lebih menantang menulisnya. Sementara paradigma puisi esai, kebanyak orang mengartikan sebatas memasukan tokoh, alur, latar dan bahasa sebagai pemanis dalam sebuah karya puisi. Sepertinya dimaksudkan demikian, akan tetapi Agus R.Sarjono dalam tulisan Jurnal Sajak, jauh mejelaskan tentang puisi esai. Di dalam puisi esai, dilihat dari namanya, merupakan gabungan dari dua state of mind dalam tulisan, yakni puisi dan esai adalah satu genre dalam sastra. Kalau esai, jelaslah bukan bagian dari karya sastra.

Kita lihat bahwa, selama ini yang dianggap sebagian orang esai adalah termasuk karya sastra. Dan sering esai seringkali puitis dan kerap menjadi jenis tulisan yang dipilih manakala seorang ingin membicarakan suatu isu dalam sastra. Esai sebagai genre karangan mulai dikenal setelah Michel de Montaigne yang menerbitkan tulisan dengan berjudul Essais (1580). Sejak itulah, nama esai (prancis) atau essay (inggris), yang artinya upaya-upaya atau percobaan. Oleh sebab itu, lebih bersifat sementara daripada bersifat genre karangan sebagaimana kurang lebih ditulis Michel de Montaigne.

Perkembangan  esai Indonesia sebenarnya, sudah lama di tulis oleh para penulis. Sebagaimana nama esai yang ditulis sebuah genre menjadi popular sejak H.J Jasin menerbitkan bukunya yang terkenal, yakni Kesustraan Indonesia Modern dalam kritik  Esai yang kemudian diterbitkan berjilid-jilid. Sejak itulah karangan esai segera menjadi sesuatu yang bisa dalam khazanah karang-mengarang khsusnya sastra, di Indonesia.

Tentunya sebelum H.H.Jasin menerbitkan bukunya yang terkenal, yakni Kesustraan Indonesia Modern dalam kritik Esai, karangan esai sudah banyak ditulis orang. Misalnya karangan masyhur Ki Hajar Dewantara,”Al Jk Nethelanden Was”(andai aku seorang belanda) yang membuat pemerintah colonial berang dan mengirimnya ke penjara, tidak bisa tidak salah sebuah esai. Demikian pula karangan S.T.Alisyahbana “Semboyang yang tegas” yang memicu terjadinya polemik kebudayaan, jelas karangan esai.

Hal demikian, sebuah esai tentu bukan memiliki hubungan intim dengan karya sastra. Proses esai ini juga, telah menimbulkan berbagai macam dinamika, tertuang dalam sebuah puisi. Kemudian itu, perkembangan esai juga, terjadi regenerasi, dipakai sebagai meilustrasikan alur dan tokoh dalam puisi untuk diikuti, dibaca dan dipraktekan. Puisi esai, telah membuat tokoh dalam penulisan puisi menjadi realitas, peristiwa mendalam yang dialami seorang tokoh. Tetapi, harus tokoh, alur dan bahasa dirumuskan  berdasarkan catatan kakinya. Dalam catatan kaki tersebut, bisa saja diambil dari riset, buku, majalah, penilitian sosial maupun pemberitaan secara ilmiah,  untuk digunakan dalam penyusunan puisi.

Menurut sehimpun puisi Lekra dalam harian rakyat (1950-1965) mengatakan tradisi kesusteraan lekra,adalah anak bungsu yang istimewa. Bahkan lebih istimewa ketimbangan novel. Keistimewaan yang lain menurut lekra, seluruh puncak impian Lekra dan PKI membuar puisi dengan kadar kualitas yang berbeda-beda tentu saja. Dan puisi-puisi mereka bertebaran di halaman Harian Rakjat edisi Minggu. Lekra sendiri mengakui bahwa dalam laporannya di Konferensi Nasional Lekra di Medan pada 1963, bahwa selama 12 tahun berkiprah di lapangan kebudayaan, satrawan Lekra paling produktif melahirkan puisi-puisi dibandingkan dengan prosa maupun hasil-hasil karya kesenian lainnya.

“Lekra berkata,arti dari nilai puisi  diukur sampai dimana dia memberikan pencerminan dan kesan dari realitet. Hubungan sebab dan akibat (kausal) antara subjek dan ojek, antara penyair dan apa disajikannya adalah sangat rapat, dalam hal mana, bukanlah se-mata-mata subjek yang menggambarkan realitas, tetapi juga objek mana yang dicerminkan, yang diceritakan, yang digambarkan dalam sajak itu realistas menguasai penyair. Jika dalam kerjanya ada sejumlah ditarik sosial yang positif, maka kerja ini berhak disebut sebagai kerja yang mempunyai kualitas arsitek”.

Untuk itu, dalam pembuka delapan jalan menyigkap esai, bagian pembuka dalam tulisan bisa berarti kalimat pertama, paragraf awal, atau lembar halaman kesatu.Memang kalimat/paragraph/lembar halaman pertama bukan pertaruhan terakhir dalam penulisan esai, tapi ia termasuk dalam salah satu elemen penting dan terdepan yang menuntun pembaca memasuki keseluruhan tubuh tulisan. “Dalam penelusuran saya dari esai-esai yang sudah dimuat para “pendahulu kita”, setidaknya ada delapan gaya atau corak yang umum digunakan. Sebab dalam banyak temuan, ada hingga tiga gaya yang dikombinasikan sedemikian rupa dalam menyusun kalimat/paragraph/lembar halaman pertama esai.

Kedelapan gaya esai menurut Muhidin adalah; (1), menetuk dengan kutipan, (2) menampilkan peristiwa dan kronik,(3) bercerita atau berkisah,(4) mengolah biodata dasar seperti tanggal dan tempat lahir,(5) mengajukan sejumlah pertanyaan,(6) menyapa pembaca atau pendengar jika esai dimaksdukan untuk dibacakan,(7) menjelaskan metode,(8) paparan umum, Muhidin M.Dahlan (2016) dalam bukunya Inilah Esai.

Pada pembahasan tentang puisi ke esai di atas mengambarkan kepada kita bahwa, sejumlah puisi-puisi esai yang telah dipraktekan dan baca, dikatakan sudah menjadi realitas dalam dunia puisi. Namun puisi esai yang ditekankan disini, yaitu harus mempunyai berbagai macam fariasi menempatkan penokohannya, alur serta latar agar terilhami dari gaya bahasa yang direduksi, sehingga ketika menulis, bisa benar-benar diterima oleh kalangan publik.

Prinsipnya bahwa, dalam penulisan puisi esai atau duluan puisi kemudian ke esai, hal-hal yang menyangkut dengan bahasa-bahasa yang lebih puitis, terkait esai, ditempatkan, direnungi sebaik mungkin agar kelihatan memberi makna kepada banyak orang. Karena satu sisi, nilai, empati, edukasi, simpati dan objektifitas yang ditulis sesuai tokoh dalam penulisan puisi esai. Hal lain, terdapat berbagai latar pada penulisan puisi esai, mestinya sejak si tokoh megalami kekerasaan sosial, itulah yang diangkat sebagai kacamata mengungkapkan realitas sosial di lapangan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!