Mengenal Lagu Lewat “Kritik Sosial”

 

Mengenal Lagu Lewat “Kritik Sosial”

Oleh: Mansyur Armain

 

Dalam lirik-lirik lagu yang diciptakan Vergiawan Listanto atau disebut Iwan Fals, mengandung unsur-unsur narasi akurat untuk dikatakan seperti puisi. Lagu yang diciptakan Iwan Fals bukan hanya berangkat dari kondisi sosial, namun Iwan mencoba mengawinkan lirik lagu dengan puisi-puisi sebagai basis membangun imajinasi menulis lagu. Terkadang, puisi-puisi yang dicontohkan Sapardi Djoko Damono, Goenawan Muhammad, W.S.Rendra, Khairil Gibran dan para penyair lain yang terkenal, hendak mengungkapkan sebuah puisi diawali dengan pengalamannya masing-masing.

Ciptaan lagu-lagu Iwan Fals yang mulai melegenda di saat saat runtunya reformasi yang dimpimpin oleh Seoharto dan digantikan oleh Habibie sebagai wakil presiden waktu itu. Iwan Fals mengadirkan lagu seperti,”Untukmu Negeri, Surat Buat Wakil Rakyat dan Bongkar,”dimana paska reformasi pemimpin negera acuh tau tentang ketimpangan yang melanda masyarakat mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi-politik, sosial-budaya, hukum, serta krisis kemansian.

Mokoo Awe mencoba mengekpolrasi bukunya berjudul Fals, Nyanyian di Tengah Kegelapan, bahwa seorang penyanyi Iwan Fals, dengan nama lengkap Vergiawan Listanto, 3 September 1961 dari pasangan Lies dan Haryoso, telah dianugrahkan kepekaan sosial, melihat kesewenang-wenang yang ditimpah bangsa dan negera. Dengan panggilan akrabnya Tanto, semasa kecil merupakan tipe manusia yang mudah terharu. Iwan dibesarakan dengan linkungan yang ketat dalam pendidikan agama, sehingga tidak mengherankan, jika ia pernah mendapat juara adzan tingkat DKI ketika masih di bangku SD.

Walaupun Iwan sukanya olahraga hingga ia menjuarai berbagai prestasi yang telah diukir baik dari olahraga kungfu sampai tingkat Karate Nasional. Dan sempat ditawarkan Iwan menjadi pelatih di tempat ia kuliah STO (Sekolah Tinggi Publistatistik).

Kedekatan Iwan bersama dunia hiburan , telah ia habiskan di Bandung semasa kecilnya. Selanjutnya Iwan ikut bersama saudaranya sekolah di Jeddah, Arab Saudi, walaupun sekitar 8 bulan, tetapi gitar menjadi tempat hiburan untuk menghadirkan lirik-lirik lagu. Pulang dari Jeddah, Arab Suadi saat itulah seorang Pramugari telah mengajarinya  lagu ‘Blowing In The Wind”-nya Bob Dylan, setelah lebih dahulu memperbaiki stem gitar yang fals.

Dengan bermodal gitar,Iwan mulai mengamen di Bandung. Untuk belajar gitar itu, ia mulai dari otodidak. Iwan menjadikan gitar sebagai alat untuk diterima dalam pergaulan teman-temannya. Bakat seni mengalir dari kedua orangtuanya. Sewaktu kecil juga, Iwan sudah punya piano, ia akrab dengan harmonica. Sepert main gitar, Iwan tidak pernah belajar secara khusus memainkan harmonika. Bagaimanpun, gitar seakan tidak bisa dipisakan dari hidup Iwan Fals.”Teman gitar temanku lagu/nyanyikan tangis marah dan cinta,”kata Iwan. Gitarlah yang telah menemaninya hidup di jalan sampai ia mampu menjadi idola.

Kemampuan mencipta lagu, menjadi modalnya untuk menjual suaranya di berbagai hajatan. Dan Engkos, seorang tukang bengkel sepeda menjadi menejernya. Tidak tanggung-tanggung, lagu ciptaanya sudah beredar sampai ke Jakarta.  Iwan pernah merekam di radio 8 EH, dan lagu-lagunya disiarkan di radio tersebut, tapi sayang radio itu akhirnya dibredel.

Jalan puncak itu tak selamanya mulus, walau telah berasil rekaman, toh, kasetnya mereka tidak laku. Langkah (nya) pelan tertatih/ dengan denyut nadi hampir berhenti/ namun jangan padam ambisi, akhirnya profesi yang lama pun kembali digeluti. Kembali sebagai pengamen. Walaua telah rekaman, Iwan tetap menajdi pengamen. Tentu saja ia mengamen dengan membawakan lagu-lagu yang diceritakan masalah actual yang terjadi disekililinginya. Di masa itu iwan tumbuh di jalanan, dimana setiap detik selalu saja/ ada yang  berintih/ setiap menit selalu saja/ada yang mengerang. Hal-hal seperti itulah yang kerap dicertikan Iwan dalam lagu-lagunya.

Makoo juga menjelaskan, karier sebagai pengamen ia sudah sejak kelahiran anak keduanya, cikal yan dilahirkan tahun 1985. Iwan memiliki 3 anak; Galang Rambu Anarki (Almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani. Anak yang menjadi harapannya dan masih jauh jalan yang harus (mereka) tempuh/ mungkin samar/ bahkan gelap.  Bahwa banyak yang tidak ingin diharapkan oleh Iwan dari bermusik, ia hanya ingin berarti dari jalur digeluti. Ia memotret setiap ujung kehidupan, terutama di Jakarta. Di ujung sana menyerang/ disudut sana banyak orang kehilangan.

Nama Iwan semakin mencuat, saat album “1910” dan “Mata Dewa” meledak di pasaran. Putaran yang bergulir ke arahnya dan membawanya ke puncak populiritas. Jutaan penggemar menyemut di mana-mana mengelukan namanya. Tidak berlebihan kiranya, jika mengungkapkan kepopuleran denga kalimat jangankan lelaki muda terpesona/ yang tua jompo pun gila. Di tengah popularuitasnya, Iwan tidak lupa diri. Ia tetap mengekpresikan lingkungan ke dalam lagu. Setelah itu, Iwan lantas merilis beberapa album yakni “Cikal” belum ada judul,”Hijau.”dan orang Gila”. Iwan pun mulai memasukan alat musik lain ke dalam lagunya. Suling hingga aneka perkusi adalah tambahan yang kerap terdengar dalam lagu-lagu Iwan.

Setelah album Orang Gila, kata Makoo Iwan menghilang dari ramainya ‘penindasan”. KKN berkembangan baik sampai kelurahan/ banyak orang kehilangan pegangan. Penggemar hanya bisa mencari dan mungkin bersenandung lirih, apa kabarmu/kurindu gonggongmu yang keras.

Melawan dengan Lagu

Suara berita tertulis dalam koran. Demikian, koran memiliki peran dalam menciptakan karya Iwan. Dalam menulis lirik,koran menjadi sumber inspirasinya, walaupun dalam perkembangannya, koran tak lagi menjadi sumber inspirasi tapi koran tetap menjadi kamus perbendaharaan katanya.

Dari koran, pengalaman batinnya Iwan mengungkapkan fakta secara jujur, telanjang, dan apa adanya. Sikap Iwan ditanggapi kontra-produktif oleh pihak-pihak yang merasa tersindir. Suara Iwan terdengar “fals” di tengah birokrat rezim Orde Baru, akibatnya suara lantang Iwan kerap dikekang.Stabilitas merupakan alasan “mengada-ada” yang kerap dilontarkan untuk membangun Iwan. Lagu-lagunya pun kerap dilarang tampil di televise, terutama TVRI yang ada waktu itu berada di bawah ketiak penguasa. Tidak ada yang bisa dilakukan bagi rakyat biasa/tak berdaya ditodong senjata/mencuri hidup yang hany sekali/hanya berdoa yang kita bisa.

Pada album “Manusia 1/2 Dewa” dirilis pada April 2004 seakan ingin mengingatkan rakyat Indonesia, tentang doa orde baru, ataupun  istilah Iwan, Ore baru Paling Baru. Album ini menjadi symbol kerinduan tubuhnya berasal dari bumi. Lewat lirik lagunya, Iwan mengingatkan kepada presiden baru yang terpilih pada 20 September 2004, bahwa hal yang diinginkan rakyat dari presidennya sebenarnya sederhana, cukup turunkan harga secepatnya berikan kami pekerjaan/ tegakan hukum setegak tegaknya/ adil dan tegas tak padang buu/ pasti kauangkat engaku/ menjadi manusia setengah dewa.

Memang dari tahun, 2005, 2007 sampai 2010 Iwan telah merilis album-album yang kritis yang bertema politik. Di tahun 2005 Iwan menggadeng grup band padi dalam menyanyikan lagu-lagu yang  bertema politik dengan album sebanyak 16 lagu. Di tahun 2013, Iwan kembali merilis sebuah album”Raya” yang dipersembahkan untuk putra bungsunya, dengan satu lagu lagi berjudul “Raya”. Raya dilatarbelakangi oleh catatan-catatan kegelisahan Iwan, kegembiraan, dan kesedihan akan kehidupan putra bungsunya, Raya Rambu Rabbani. Setelah sebelumnya Iwan Fals juga menciptakan alambum “Cikal (1991) untuk anak perempuannya dan kagu “Galang Rambu Anarki (1982)” anak pertamanya yang sudah meninggal.

Dialbum ini, Iwan bereksplorasi dengan music dan tema, walaupun tidak dengan lirik. Diantara lagu-lagunya ada catatan perenungan, keprihatinan, dan kepekaan Iwan Flas selama manggung dari kota ke kota yang dituangkan dalam lagu”Negeri Kaya”. Bahkan Iwan menyampaikan juga tentang kondisi pemerintah terkini, seperti pejabat yang memiliki “Rekening Gendut” di neegri yang “kaya pejabat, kaya penjahatnya” ini.

Dibalik kesuksesan Iwan Fals dalam lagu-lagunya,  Iwan telah menebarkan salam persatuan dan kedamaian leat organisasi penggemarnya yang bernama OI (Orang Indonesia). Tampaknya usaha Iwan menemui hasil. Bermacam suku yang berbeda/ bersatu dala, kibarmu. Semangat persatuan dan perdamaian yang dikibarkan Iwan, tercermin betul dari filosofi yang berbeda di balik logo OI. Ditandai dengan huruf “O” yang berwarna putih miring ke kanan menyatu dnegan huruf “I” (kecil) tegak berwarna hitam sebagai perlambang kesucian yang dilandasi keteguhan dan ketegasan  sikap, sedangkan “Titi” di atas huruf “I” (kecil) berwarna merah merupakan simbol dari semangat yang membara untuk bersatu.

Orang Indonesia atau biasa disebut oi, merupakan tempat berkumpulnya para penikmat karya-karya Iwan Fals. Mereka menjalin ikatan silaturahim di antara mereka dan tentu saja seperti sang idola, mereka juga bekereasi, dalam kapasitas sebagai pengemar.

Fals nyanyian di tengah kegelapan dituangkan oleh Makoo, untuk memahami kritik sosial yang dialami Iwan Fals dalam lagu-lagunya, sebab itu Makoo mendapatkan bahan lirik lagunya dengan jalan mendengar pita kaset rekaman. Hal itu meminimalisir kesulitan pada teks-teks tertulis lagu ieab Fals yang sulit didapatkan. Apalagi lirik lagu yang dikumpulkan dalam album pertama yang berjudul “Imitasi”.

Hal itu, Makoo juga membuat kliping dan artikel tentang Iwan Fals berikut karya-karyanya, apda gilirannya memberikan sumbangan bagi Makoo untuk melakukan kajian medalam. Berita-berita surat kabar dan majalah mulai tahun 1981. Makoo bolak-balik, dengan anggapan tahun tersebut merupakan awal dikenalnya iwan Fals dengan lirik lagunya lewat album “Sarjana Muda”. Selain itu, pada tahun tersebut Iwan Fals mulai mendapatkan peridikat sebagai pengarang lagu yang penuh dengan “protes dan kritik sosial”.

Tema yang diungkapkan dalam lirik lagu Iwan Fals beragam meliputi patriotism dan Cintah Tanah Air, lingkungan hidup, krtik dan keadilan sosial, cinta, gaya hidup, rakyat kecil serta kepedulian sosial. Dari tema-tema tersebut di atas, merupakan lirik lagu yang bertemakan kritik dan keadilan sosial merupakan tema yang paling menojol dalam lirik lagu Iwan Fals. Tema ini jarang dijumpai dalam lirik lagu lain pada umumnya sehingga hal ini menjadikan lirik lagu Iwan Fals dikenal penuh dengan kritik sosial.(***)

 

__________

Keterangan:

Judul Buku      : Fals, Nyanyian Di Tengah Kegelapan

Penulis            : Makoo Awe

Penerbit          : Ombak

Cetakan          : Kedua, 2017

Tebal               : 304 hal

ISBN                : 978-602-258-426-1

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tim Inkai Tikep Sumbang 9 Medali di Kerjuaraan Kajati Sulut Cup II

Sen Feb 24 , 2020
  Mengenal Lagu Lewat “Kritik Sosial” Oleh: Mansyur Armain   Dalam lirik-lirik lagu yang diciptakan Vergiawan Listanto atau disebut Iwan Fals, mengandung unsur-unsur narasi akurat untuk dikatakan seperti puisi. Lagu yang diciptakan Iwan Fals bukan hanya berangkat dari kondisi sosial, namun Iwan mencoba mengawinkan lirik lagu dengan puisi-puisi sebagai basis […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!