MASYARAKAT, MAHASISWA DAN POLITIK

Oleh : Fajar Sadik Djabir
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unkhair)

 

Duskursus politik pada tahun-tahun politik saat ini sangat mewarnai aktivitas keseharian masyarakat, mulai dari para pedagang kaki lima, tukang ojek, ibu-ibu rumah tangga, hingga anak-anak muda milenial. Begitu pula di kampus-kampus, mulai dari mahasiswa sampai rektor ikut meramaikan diskusi politik.

Ada banyak sekali ide-ide baru bermunculan dan tumbuh di tengah diskusi politik masyarakat, banyak pula yang menyertainya dengan keresahan dan segudang persoalan yang dialami.

Berbagai penolakkan pada diskusi politik juga muncul di berbagai tempat, beragam alasan diutarakan demi mendukung penolakkan wacana politik.

Biasanya, penolakkan tersebut bermula dari pengalaman ditahun-tahun politik sebelumnya yang tidak banyak memberikan dampak positif setelah diskusi politik tersebut dilakukan, utamanya pada kalangan masyarakat.

Itu terlihat wajar saja, masyarakat banyak mendapatkan pengetahuan politik pada pengalaman dari tahun ke tahun, tetapi pengetahuan politik dunia dan nasional secara ilmiah sangatlah minim dikonsumsi masyarakat.

Berbeda dengan masyarakat yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tidak lagi asing dengan diskusi politik. Namun, masalahnya tidak jauh berbeda dengan kasus sebelumnya, banyak pula penolakkan terhadap diskusi politik terjadi di tengah aktifitas ilmiah mahasiswa tersebut.

Banyak alasan dikemukakan, mulai dari politik itu harusnya menjadi diskusi mereka di fakultas politik, politik seharusnya jauh dari wacana mahasiswa karena bisa mengancam idealisme, politik jangan dibahas terus-terusan nanti dikiranya mahasiswa sudah berpikiran politik praktis, dan lain-lain.

Dalam persoalan ini, saya teringat dengan sebuah maksim dalam dunia politik yang cukup dikenal, yaitu “siapa yang buta politik akan dimakan politik”.

Benar saja, kita membutuhkan pengetahuan politik agar tidak dibodohi dengan permainan politik yang menyimpang dan merugikan kita.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (menristekdikti) Mohamad Nasir di Karawang, Jawa Barat, Senin (3/9/2018) mengatakan, “Kampus adalah tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Politik praktis jangan masuk kampus”. (dikutip dari liputan6.com).

Saya sepakat dengan pernyataan itu, karena selain mencemari wajah pendidikan, politik praktis yang masuk ke kampus juga dilarang pada pada Pasal 86 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu.

Dalam ketentuan tersebut adanya larangan kampanye di beberapa tempat misalnya di tempat pendidikan seperti kampus. Yang berbahaya adalah politik praktis, namun tidak menjadi persoalan jika wacana politik secara ilmiah dikembangkan di kampus.

Ide-ide baru akan bermunculan di kampus untuk memperkaya khazanah pemikiran politik di Indonesia, dan para politisi harus selalu dalam pengawasan kampus pada setiap aktivitas mereka yang memiliki pengaruh pada masyarakat.

Bila perlu kampus harus dijadikan laboratorium pemikiran politik dalam pembuatan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Agar para politisi yang semulanya dari kampus, bisa kembali lagi ke kampus untuk membedah pemikiran politik mereka pada seminar atau diskusi.

Kampus yang semulanya memproduk para politisi tidak serta merta melepaskan mereka begitu saja dalam dunia yang mereka geluti tersebut, namun selalu mengawasi pemikiran politik mereka agar mengurangi penyimpangan yang dapat berpengaruh pada masyarakat. Dengan begitu, kampus dan politisi benar-benar melayani kebutuhan politik masyarakat dengan sangat baik.

Mendekati tahun pemilu ini, saya rasa perlu menghidupkan diskursus politik yang bervitamin untuk membuat tubuh politik kita kembali segar dan menurunnya tingkat penyelewengan yang berujung korupsi.

Politik yang sehat akan memperbaiki jalan rusak tempat didistribusikannya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.(***)

Malut Times

Jendela Informasi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Harga Kopra Anjlok, Ini Solusi Pemkab Halbar

Sen Nov 19 , 2018
Oleh : Fajar Sadik Djabir (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unkhair)   Duskursus politik pada tahun-tahun politik saat ini sangat mewarnai aktivitas keseharian masyarakat, mulai dari para pedagang kaki lima, tukang ojek, ibu-ibu rumah tangga, hingga anak-anak muda milenial. Begitu pula di kampus-kampus, mulai dari mahasiswa sampai rektor ikut meramaikan […]

Malut Times

maluttimes.com

Maluttimes.com - adalah portal berita media online yang menyajikan reportase seputar peristiwa maupun perkembangan kondisi sosial, politik, hukum, pendidikan, budaya dan ekonomi di Provinsi Maluku Utara yang dikemas secara aktual, cepat, akurat dan terpercaya. Portal berita ini mengusung slogan sebagai “Jendela Informasi Maluku Utara”.

error: Content is protected !!